Anak Kecil yang kuberi nama Hujan

rain.jpgAnak kecil. Dulu, saya berdiri di hadapannya sebagai si tentor biologi,  tapi ternyata kelak kami akan berdampingan saling tertawa, bukan sebagai tentor lagi tapi teman se-ma’had dan se-kantor. Meski begitu, saya masihlah si kakak, dan dia masih si adik. Kami bukan saudara kandung. Boro-boro. Dia tinggi, saya tingginya gak amat-amat. Dia tirus, saya bulat meski sama-sama tak layak disebut berat ideal. Hujan, saya memberinya nama itu. Nama yang menurut saya terpaksa saya beri karena untuk memberinya nama bunga, saya tak sanggup. Saya tak sanggup kalau dia jadi bunga yang diinjak-injak sapi atau sejenisnya. Hahaha.. Peace.. Memberinya nama pelangi, dia Cuma muncul sesekali, baiklah kamu hujan saja yah dik. Simpul saya malam itu. Dan dia pun bersorak. Baca lebih lanjut

Cuma Mau Bilang Ini, Hhee..

07549_HD

Hatchiii… uhuk uhuk, sukses! Blog saya sukses berdebu. Begitu lamanya saya tidak mampir disini, jadi ilfeel sendiri. Asli, saya sibuk.. beneran! Tidak mengada-ada. Duduk di bangku kuliah kembali, mampu menyukseskan saya mengabaikan blog ini. Ya, Alhamdulillah saya kuliah kembali di ma’had, mengkonsentrasikan diri mempelajari bahasa Langit (Arab). Dan itu cukup bikin saya riweuh..

Nah, Cuma mau bilang itu saja. Imtihaan sudah di depan mata, saya kudu siap-siap. Doain mumtaz yah. Selamat puasa.

Jadilah Pemenang Sejati

turn to Allah

Keindahan sesungguhnya dalam sebuah perjuangan bukan pada hasilnya. Tapi kenikmatan-kenikmatan yang timbul dari proses perjuangan tadi (Pepatah Bijak)

Hari-hari terasa begitu berat dilalui saat pendengaran senantiasa dibanjiri oleh matriliur kata dari yang dicinta. Mereka orang tua kita. Dari rahimnya kita lahir, dari tangannya kita merasakan hangat saat jutaan anak diluar sana ringkih dengan angin, hujan dan terik tanpa penghalang menerobos kulit dan tulangnya. Kita bersuka cita. Dalam suka cita, masa-masa berlalu. Kita mulai memahami arti hidup meski dengan mengeja dan terbata-bata. Kita memaknai hidup sesederhana angin yang menyapa awan hingga hujan hadir. Kita menyelami hidup sesederhana bahwa hidup adalah hadiah yang tak boleh tersiakan oleh sekedar cita-cita sebatas gelar duniawi. Kita mulai memahami, bahwa ada masa saat kita harus bertanggung jawab pada semua karunia itu. Baca lebih lanjut

IBU PALESTINA

Palestine

Anakku, mataku kini tiada menyisakan cahaya
Hingga lamur karena pekat
Namun masih ada bara manikmu
Menyisakan detak-detak perapian
Berangus sukma-sukma kayu

Anakku, punggungku berbentuk pelangi hanya disanggah pilar rapuh ujung tangan
Serabut-serabut putih tumbuh berlarian kepalaku
Hadir jua teguh sosokmu
Siap rambah padang seribu luka

Anakku, aku telah temaram usia
Tinggal selangkah mengetuk pintu tanah
Bukan menghantar denyut jantung itu yang kuingin
Mengutusmu menyambut rencah 100 peluru yahudi
Seperti menyusun batu bata surgaloka

Anakku mari jadi Ibrahim dan Ismail
Mahkotai raja kita dengan hibat pitih
Sudah sampai suratan
Mengikuti iringan jasad berbau kesturi
Menuju sisi Sang Pencipta

Liebe ENO Shafiiyyah (24.2.03)

(Suara untuk bumi Gaza dari tanah Anging Mammiri)

Pakaian Takwa

sumber gambar: google

sumber gambar: google

Ketika wahyu itu turun dan dikabarkan pada mereka lewat lisan suami, saudara, ayah atau kaum muslimin lainnya, seketika itu pula mereka mencari celah bumi untuk bersembunyi melindungi diri dari pandangan manusia, menarik apa saja yang berada disekitarnya untuk segera merealisasikan titah Langit yang agung itu. Tak ada komentar berlebihan, keluh ataupun kesah. Hanya sami’na wa atha’na. Kepatuhan sesegera gelombang suara menyentuh indra pendengaran. Baca lebih lanjut

Kembali dari Hiatus

small flower hand

Ughh.. saya sedang terkena sindrom. Sindrom kebuntuan inspirasi. Lihat saja, saya baru mendarat disini setelah sekian lama. Jari-jemari saya mendadak kaku, seperti lidah yang kelu untuk berkata. Hey, saya tidak benar-benar mengalaminya kok, buktinya saya masih bisa menuliskan ini kan?

Mengalami kebuntuan seperti ini sudah sering saya alami, adalah salah kalau saya harus mengkambinghitamkan rutinitas untuk melegitimasi ke-alpa-an saya menulis. Padahal saya baru saja mengikuti pelatihan jurnalistik. Oh Allah, ini kesalahan. Okey, saya harus keluar. Tapi, mulai dari mana? Somebody help me, please. Ah, itu terlalu mendramatisir. Keluar yah keluar saja. Ini, saya sudah keluar dari masalah dengan menulis lagi. Baca lebih lanjut

Transaksi Masa Depan

Bismillahirrahmanirrahim

transaksi masa depan

Saya yakin kalau hari, tanggal, jam, menit bahkan detiknya telah tercatat di lauhul mahfuzh. Tugasku adalah menjemputnya dengan Ikhtiar, doa dan tawakkal.

 “Penelitianmu ini tidak masuk akal?”

“Mana ada konsep diri bisa diteliti oleh seorang Mahasiswi Biologi macam kamu?”

Wajah saya pias mendengar kata-kata kaprodi sore itu. Hasil menunggu sejak pagi dalam antrian konsultasi berakhir tragis dengan penolakan mentah-mentah. Dan itu terjadi di hadapan para yunior yang juga ikut konsultasi.

“Teori siapa yang kamu pakai?”tanyanya kembali.

“Sangat sulit membuat alat ukur variabel ini. Mana angket penelitianmu?” sambil membolak balik proposal saya, meskipun sudah melihat angket dibagian lampiran tapi tetap saja kaprodi menolaknya dengan alasan belum pernah diujikan dan saya bukan mahasiswa psikologi. Titik!.

Saya cuma bisa terdiam, terdiam karena saya tau tindakan sia-sia untuk “melawan”. Mengajukan argumen berarti mencari masalah. Sesekali tersenyum pada lantai itulah yang paling bisa saya lakukan. Saya ingin itu menjadi pertanda bahwa saya pasrah. Pasrah oleh sebuah penolakan proposal penelitian saya. Sejauh ini, mengapa sejauh ini baru ditolak? Sekiranya boleh meminta lagi, saya meminta agar sejak awal judul penelitian sudah dipental jauh-jauh. Setidaknya saya tak perlu berpayah-payah menyusun proposal ini.

Saya keluar dari ruang prodi dengan langkah gontai. Menatap map biru berisi proposal yang dipental itu. Saya tidak akan menyerah, itu tekad saya. Saya harus berusaha dan terus berusaha. Kalo penelitian ini jauh berbeda dengan yang lain, maka itu pilihan. Think out of box!

Baca lebih lanjut