Episode Baru bersama Gadis Sipit

Saya melihat gadis itu ketika masih menjadi Mahasiswa baru di UNM, seorang gadis sipit dengan kepala yang tak dihiasi dengan jilbab. Saat itu saya mengambil kesimpulan, mungkin ia seorang gadis nasrani. Karena FMIPA UNM terkenal dengan kampus religious, jangan berani masuk kalau tak menggunakan jilbab. Tapi, ketika seorang akhwat mengatakan dia seorang muslimah, menurut saya dia terlalu berani untuk masuk kampus tanpa berjilbab. Meskipun saya tau, ketika di luar kampus dan di kos-kosan rata-rata mahasiswi menanggalkan jilbabnya seolah tak berbekas sama sekali makna perintah Allah tersebut untuk menjaga mereka. Kami berbeda jurusan tapi gedung kami saling berhadapan. Ia cukup menarik perhatian penghuni kampus, kulitnya yang putih dan parasnya yang tak membosankan plus karakternya yang supel, murah senyum serta sifat tomboy membuat ia memiliki banyak teman pria.

Saya masih ingat Waktu itu kami sebagai Maba diwajibkan mengikuti berbagai mata kuliah dasar sains baik itu kimia, fisika, kalkulus dan biologi berikut dengan praktikumnya, maka setiap gedung akan kami sambangi setiap harinya untuk “BURAS” alias Buru Asisten hanya sekedar meminta tanda tangan mereka. Bersama dengan rekan sekelompoknya pun ia menunggu waktu itu. Kami pun berpapasan di tangga, tapi tak saya temui sikap murah senyum tersebut diberikan pada saya. Yah..saya mencoba berhusnuzhon saja, mungkin dia malu atau tidak melihat saya waktu itu. Seiring waktu berlalu, memasuki semester dua kami pun sudah tak memiliki mata kuliah yang sama. Kami berjibaku dengan praktikum jurusan kami sendiri. Tapi, tak hentinya pandangan saya selalu bertumbuk pada gadis tersebut saat ia beredar disekitar kampus. Kesibukan pun membuat saya sempat cuek dengan dunia sekitar, yang penting urusan dengan asisten sudah selesai itu prinsip saya. Belum lagi tugas kuliah yang menumpuk membuat kami semakin tak peduli dengan orang-orang sekitar. Tapi untuk gadis yang satu ini tak pernah saya terlewat melihat fase hidupnya. Hingga tanpa sadar suatu hari saya telah melihatnya menggunakan jilbab. Subhanallah. Waktu itu dia menggunakan jilbab segitiga yang berukuran cukup besar menurut saya. Hmm…akhwat kampus sudah mengantarnya menuju hidayah, bisik saya dalam hati waktu itu. Bahkan ia sangat aktif memanggil rekan-rekan mahasiswi untuk ikut kajian jumat dengan kesupelannya yang kini bermanfaat untuk dakwah ilallah, ia juga aktif di Rohis fakultas.

Masih saja pandangan saya selalu bertumbuk padanya, dan kali ini saya melihatnya lagi dengan hijab syar’i yang ia kenakan. Anggun sekali. Tapi, saya belum punya kesempatan untuk mendengarkan cerita-cerita hidayah dari gadis itu yang bisa saya ambil ibroh di dalamnya, sebab saya tidak tercatat sebagai pengurus rohis kampus karena telah memiliki amanah lain di luar menangani forum alumni sekolah di kota Makassar. Sehingga interaksi antara kami hampir tidak pernah terjadi. Awal interaksi adalah ketika kami ditempatkan di kabupaten yang sama waktu KKN, meski kami berbeda kecamatan. Tapi, sejak saat itu saya mulai akrab dengannya. Meski begitu saya masih sedikit ragu untuk mengetahui pribadinya lebih dalam. Dan hari ini, ditempatkannya kami dalam satu tim PPL di sekolah yang sama menyebabkan saya dengannya semakin akrab saja. Kami bahkan memiliki hobby yang sama, masuk pasar sentral alias dagang. Aha!

Hal yang diluar dugaanku sama sekali, dia mengetahui banyak tempat murah meriah untuk berbelanja. Untuk hal yang ini kami sedikit berbeda, bagi saya berbelanja ditempat yang sama memberikan saya kepastian kualitas. Tapi baginya, kalau bisa dapat yang murah dan baik meski harus berkeliling why not?. Saya akui dia supel, banyak hal yang kami cocok. Juga soal bercanda. Kami sangat nyambung. Bercanda yang syar’i tentunya. Dan satu cerita yang sangat ingin saya dengar dari dahulu pun mengalir. Ia bercerita banyak tentang hidayah yang ia peroleh, sikapnya saat dikejar-keja murabbiyah dan sebagainya.

Ah..ukhti, ternyata saya harus bisa bersabar empat tahun untuk sekedar melihat setiap episode kehidupan itu mengallir dari lisanmu sendiri. Tak kutemui lagi gadis sipit dengan rambut terikat, tomboy dan murah senyum pada siapa saja. Tapi seorang gadis sipit berjilbab yang telah menjadi akhwat namun murah senyum pada setiap muslimah yang ia temui agar mereka melihat indahnya islam melalui sapaan dan salam indah penghuni surga.

 

To my sister : keep spirit, kamu begitu istimewa

Iklan

Goreskan setiap yang berjejak, ramaikan dunia dengan bongkahan ide yang membangkitkan inspirasi.. Insya Allah dakwah bil qalam.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s