Anak Bukan Penghalang Dakwah

Puff….badan saya masih terasa lelah setelah beraktivitas seharian, inginnya sih langsung tidur pulas diatas pulau kapuk, merebahkan tubuh dan melepas penat. Tapi, khawatir inspirasi ini kelewat buat dituliskan, maka saya bangkit lagi lantas menekan tombol power laptop, saya lantas melangkahkan kaki menuju dapur, mengambil sebuah gelas keramik putih hadiah ultah kota Makassar yang ke-400 lalu menuang segelas teh hangat dan mengoleskan margarine pada roti tawar dan duduk di depan laptop setelah sebelumnya menekan beberapa tuts keyboard mengetik password sembari menyangkutkan headset dikepala mendengarkan radio melalui hp untuk tau situasi kota saat ini. yah, beginilah gaya saya menggali inspirasi, mengais kata-kata untuk dijejer rapi membentuk sebuah tulisan sederhana tentang hidup. Meskipun sesekali harus tersentak karena nada sms masuk yang memekakkan gendang telinga. Maka. Lahirlah anak yang diberi nama eits…kok jadi ngalor ngidul lagi. Saya masih mengingat-ingat kejadian-kejadian hari ini, atau lebih tepatnya beberapa hari ini. Bekerjasama dengan the mothers group alias para ummahat menggarap sebuah grand project training og trainer dan training remaja muslim. Sebuah pengalaman mengesankan yang akan saya pahatkan pada sebuah prasasti kehidupan saya. Grand project ini digawangi oleh para ummahat, dan kami tepatnya saya, eki dan k eka (He…sedikit lagi jadi trio eki, eka dan saya jadi apa??Eko…) yang memiliki status akhwat alias single happy. Sebuah semangat terus membara, meluap menjadi aliran ide kreatif, setangkup energy yang mekar menjadi hiasan kerja-kerja besar yang justru tak menghalangi mereka meski telah “berekor”. Yah, “berekor” ini istilah dari mereka sendiri kala harus membawa tentengan di tangan kanan, tangan kiri, berikut satunya harus digantung di dada. Yang kelak akan menggantikan dan melanjutkan estafet dakwah mereka saat menikmati wisata hisbah menuang buah pikiran urusan ummat ini. Saya terkesima sejenak, jika telah “berekor saja” mereka masih segesit ini, bagaimana dengan mujahadah mereka saat masih seperti kami single happy. Waktu itu kami sedang musyawarah, dan k Eka berbisik pada saya “ Kita saja yang masih akhwat sudah kepayahan begini, tapi mereka?Mereka masih gesit. kita tidak ada apa-apanya!”. Yah, saya ikut merasakannya. Sepulang musyawarah tadi saja, pemandangan dapur sudah 90% telah beres, saya hanya tinggal memanaskan sayur, menggoreng ikan dan menyiapkan hidangan makan malam. Sedangkan pekerjaan yang lain telah dikerjakan oleh Bunda. Lalu, saya mulai menerbangkan hayalan saya, apa yah yang dikerjakan oleh the mothers group saat yang sama, exactly!mereka sama dengan Bunda. Mengerjakan 100% pekerjaan yang 90%nya serupa dengan yang dikerjakan Bunda dan sisanya seperti yang saya kerjakan. Bahkan mungkin lebih super lagi, mengingat mereka punya anak yang masih cubby-cubby. Tapi, bukan Cuma itu. Masalah kedisiplinan waktu saat musyawarah, mereka memegang rekor. Yang justru sering telat yah kami akhaawat ini (Jadi, malu…..). tak ingin mencari justifikasi bahwa kami punya setumpuk aktivitas yang lebih padat tapi, karena memang kami masih harus memenej waktu, diri dan keluarga. Mereka punya manusia lain dalam hidup mereka yang diberi perhatian khusus, sedang kami masih mengurus diri sendiri saja masih keteteran. Sebuah pembelajaran yang berharga. the mothers group itu adalah murabbiyah-murabbiyah kami. Sekali lagi kami memang belum ada apa-apanya.

Iklan

Goreskan setiap yang berjejak, ramaikan dunia dengan bongkahan ide yang membangkitkan inspirasi.. Insya Allah dakwah bil qalam.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s