Sepatu

Sore mengantarkan malam sebelum bertugas dengannya, ada segores awan putih yang tersketsa dilangit, nampak bawakaraeng tersapu sinar mentari yang sebentar lagi menuju peraduan, diikuti oleh wajah kelelahan orang-orang diatas kendaraan menuju gubuk  masing-masing..saya baru saja pulang dari wisata hisbah yang rutin saya jalankan Insya Allah, kaki saya melangkah perlahan mencoba menikmati rambahan sinar mentari yang mulai menurun kegarangannya hari ini. . menapaki sudut jalan jantung kota Makassar.

Setiap beraktivitas diluar rumah saya sering menggunakan sepatu (Kalau telanjang kaki, ntar disangka gembel Q He….) Karena kebiasaan ini sampai-sampai akhawaat baru sadar, kalau mereka tidak pernah melihat saya memakai sandal sepatu atau sandal dihadapan mereka. Alasan saya cukup sederhana, dengan sepatu kaki saya lebih terasa terlindungi dan mudah melangkah tanpa khawatir sepatu itu akan terlempar jika saya terlalu bersemangat berjalan…(Pengen nendang bola mungkin….)

Saya menatap sepasang sepatu yang telah menemani kurang lebih dua bulan ini ada seberkas senyum yang terukir darinya, mungkin sepatu ini telah kepayahan menemani saya berkeliling setiap hari, turun dari satu angkot ke angkot lain, singgah dari satu tempat ke tempat lain. Ia hanya beristirahat sama seperti saya, di malam hari. Modelnya feminine, agak jauh dari pribadi saya yang androgin dengan telapak bagian atas lebih nampak dibandingkan sepatu saya yang sebelum-sebelumnya yang hampir menutup seluruh kaki.

Ini sepatu kedua yang saya beli dalam kurun waktu enam bulan. Sangat cepat. Karena saya ingat sepatu yang terakhir saya beli, eh dibelikan maksudnya itu kurang lebih dua tahun lalu. Tapi sayang sepatu itu harus pensiun karena alasnya yang aus, mungkin cara jalan saya yang salah hingga sepatu itu harus pensiun. Kakak saya sempat menegur kalo saya jalan jangan menyeret aspal (lumayan buat bantu pejalan kaki biar jalanannya lebih kinclong :D). Tapi, saya bersyukur sepatu itu telah setia menemani sampai dua tahun. Yah,,,dua tahun. Secara fisik jika dilihat dari atas, sepatu itu masih bagus tapi sayang alasnya tidak mampu lagi mengimbangi cara saya berjalan. Dan ia akhirnya dipensiunkan. Sepatunya tergolong kuat, asli cibaduyut kata tante saya. Belinya tidak dari cibaduyut tapi, dari kampung asal ortu. Karena sepatu itu dibawa oleh mas-mas pedagang sepatu yang masuk kantor tempat beliau bekerja di daerah. Harganya mencapai dua ratus ribuan, tapi sebanding dengan kerjanya menemani saya selama dua tahun, bahkan sepatu itu masih sempat menemani saya dilokasi KKN selama dua bulan. Setelah sepatu itu pensiun saya pun meminta dibelikan yang baru, karena sudah jatuh cinta pada model nya yang kata akhwat “kebapak-bapakan”  padahal jelas kalo itu model cewek saya pun hunting model yang sama, dan Alhamdulillah dapat. Sayangnya, sepatu itu tidak senyaman yang sebelumnya. Harganya juga ratusan ribu. Bagi saya, lebih baik kalah harga dari pada kalah kualitas. Apalagi saya membelinya pake uang sendiri jadi tak perlu ada rasa bersalah menggunakan uang ortu. Sepatu itu harus saya pensiunkan segera karena setelah tiga bulan memakainya, sepatu itu tetap tidak nyaman. Terus saja terasa sempit. Bahannya juga agak kaku. Sewaktu membelinya saya percaya mungkin akan ada perubahan apalagi sepatu itu merek terkenal. Tapi, yah jangan percaya merek lah! Padahal waktu dibeli sempat dicoba. Entahlah, kaki saya melar mungkin.

Tiba sepatu yang terakhir ini, yang tadi pagi baru saya perhatikan sudah mulai menyunggingkan senyum pada saya. Modelnya lebih “cewek”, tapi belakangan akhwat malah protes dengan model sepatu saya. Katanya, “tidak rezky banget!’. Hah???iya sih terkadang saya harus jalan perlahan jika memandang sepatu itu saat berjalan, ada spirit kelembutan yang terpancar (Cie,,,,sok lembut). Tapi, karena mulai senyum pada saya maka, saya harus segera mengantisipasi. Tadi pagi, ibu menyarankan untuk kembali menghubungi tante saya membelikan sepatu dari mas-mas itu. Saya harus sabar menanti sembari tetap menjaga agar senyum sepatu saya tidak semakin melebar hingga harus tertawa ngakak saat saya ajak untuk berkeliling lagi. Malu kan!!!

Iklan

3 comments on “Sepatu

Goreskan setiap yang berjejak, ramaikan dunia dengan bongkahan ide yang membangkitkan inspirasi.. Insya Allah dakwah bil qalam.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s