Sepatu (part two)

Hm…kali ini, sepatu itu kembali berkisah. Setelah direkatkan menggunakan lem yang paling bagus (katanya), sepatu saya yang hampir ngakak itu pun mingkem. Tapi, sayang seribu sayang hujan yang mengguyur kota Makassar sekian hari ditambah dengan jalanan yang becek berhasil membobol pertahanan lem yang katanya “kuat” itu. Kalau begini terus, bisa-bisa saya harus beli sepatu baru padahal kocek lagi tipis-tipisnya. Menunggu sepatu pesanan dari cibaduyut pun bukan solusi terbaik untuk saat ini. Akhirnya saya memutuskan menjahitnya. Berbekal jarum jahit khusus sepatu dan tasi yang memang sudah disediakan Ibu bila sewaktu-waktu sepatu atau sandal yang beliau punya mengalami kasus yang sama, saya pun menjahitnya. Sungguh luar biasa, menusukkan jarum hingga menembus alas dalam dan alas luar butuh tenaga yang ekstra, ditambah lagi harus mengikatkan tasi dari dua arah yang sama. Tak terbayangkan bagaimana dengan para penjahit sepatu yang duduk dipinggir jalan yang mungkin saja setiap hari bagi mereka sangatlah untung jika ada satu saja orang yang mau menjahit sepatunya. Sebab, harga sepatu yang saat ini murah (tapi mudah rusak) bak jamur dimusim hujan dijajakan dipasar-pasar semakin mebuat orang berfikir lebih baik untuk membeli daripada menjahitnya. Tangan saya sampai merah dibuatnya. Meskipun, ibu saya sempat menilai kalau hasil jahitan saya jelek sebab jarak jahitannya tidak sama(he..maklumlah amatiran) Itu pun jahitannya tidak untuk seluruh alasnya, saya hanya menjahit bagian yang kemungkinan akan tertawa ngakak jika saya tidak berhati-hati. Alhamdulillah, saya jadi lebih pede setelah berhasil membuat bibirnya terkulum. Exactly, kekuatan jahitan lebih baik dari pada kekuatan lem. Kembali ke cerita soal penjahit sepatu, saya pernah mendengar kalau satu sepatu yang dijahit dibayar dengan harga lima ribu rupiah. Jadi jika menjahit sepasang, penjahit sepatu dapat sepuluh ribu rupiah. Syukur-syukur kalau sehari ada yang jahit sepatu, lha kalau seminggu baru ada bagaimana?. Belum lagi kekuatan tangan yang harus dimiliki sang panjahit. Saya secara pribadi sempat mengeluh pada ibu kalau tangan saya lecet karena menarik tasi saat menjahitnya. Subhanallah, kita harus banyak bersyukur. Yah, saya sadar perkara simpel seperti sepatu bisa membuat kita lebih bersyukur dan lebih kreatif. Bersyukur karena kita tidak perlu duduk dipinggir jalan atau emperan toko untuk  menerima jasa jahit sepatu, dan lebih bersyukur lagi jika memiliki harta berlebih jika sepatu rusak bisa langsung beli sepatu baru. Bahkan ada sebagian dari kita yang punya sepatu dari berbagai merek terkenal bersusun menghiasi rak, berbagai model dan desain cantik ala Eropa, Asia sampai yang lokal. Membuat kita lebih kreatif karena justru dengan keterbatasan, sepatu yang masih bagus dan bermasalah dengan alasnya akan “memaksa” kita untuk memutar otak dan memeras keringat untuk menjahitnya…Semoga kita bisa bersyukur dan kreatif!

Iklan

2 comments on “Sepatu (part two)

  1. Saat saya mengecek koleksi sepatu saya, kaget banget ternyata mereka sudah lepas antara sepatu sama solnya. Hik2 koleksiku hancur… tapi saya jahit lagi semua sepatunya, pakai pita satin. Hasilnya mau lari kenceng juga kuat ..

Goreskan setiap yang berjejak, ramaikan dunia dengan bongkahan ide yang membangkitkan inspirasi.. Insya Allah dakwah bil qalam.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s