Cinta?Again!

Qalbun Saliim

Again!topik yang bagi saya tak pernah habisnya untuk dibahas oleh siapa saja dan dalam masa yang tak pernah lekang. Cinta…memaknainya tak butuh sederet teori. Memaknainya tak butuh ratusan seminar atau talk show. Karena ia bukan kata sifat atau kata benda. Cinta, amor, love, hubb or aid dan sejumput kata asing lain adalah sebuah kata kerja. Maka memaknai cinta adalah memaknai kerja. Lalu bagaimana dengan proses kerja itu sendiri?. Cinta bekerja dengan awalan men- bukan di-. Mencintai berarti memberi cinta, bukan dicintai yang berarti diberikan cinta. Hidup yang penuh dengan kerja untuk men-cintai, adalah sebuah hidup untuk memaknai hidup.  Sebagian besar bahkan kebanyakan orang lebih berfokus untuk menunggu cinta yang dicintai tanpa berfokus untuk memberi cinta pada yang dicinta. Hm…cinta..

Suatu hari seorang sahabat pernah berkata begini pada saya,

“Mustahil kita mencintai tanpa punya keinginan untuk memiliki!!!”.

Sejenak kata-kata ini benar adanya, bila mencintai sesuatu maka kita pasti ingin memilikinya. Bukankah ketika kita mencintai suatu barang dalam etalase toko yang bermula dari pandangan kita maka, keinginan untuk menjadikannya milik pribadi begitu besar bahkan rela merogoh kocek dalam-dalam untuk memenuhi keinginan yang membuncah atas kepemilikannya. Tapi, jika kita kembali memaknai cinta sebagai kata kerja maka sebenarnya cinta itu sendiri adalah manakala kita berusaha sekuat tenaga untuk melakukan yang terbaik untuk mencintai adapun memiliki adalah efek dari mencinta. Ia adalah finishing touch dari to loved itu sendiri. Dan bagi mereka yang men-cinta bukanlah sebuah masalah apakah ia bisa memilikinya atau bukan, tetapi yang terpenting adalah menunjukkan cinta dalam mencinta.

Lalu, bagaimana Islam memandang cinta yang berputar-putar, memantul, menabrak, menghentak itu?  Mari perhatikan ayat ini…

Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman Amat sangat cintanya kepada Allah. dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu[106] mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah Amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). (QS. Al Baqarah:165).

Cinta adalah pengejewantahan tauhid. Cinta adalah menifestasi keimanan, cinta adalah konsekuensi syahadatain dan cinta adalah pilar ibadah. Tak ada yang salah dengan cinta, tapi yang salah adalah tujuan, cara serta ekspresinya.

Saya tak ingin dikatakan pujangga cinta jika terus menerus membahas cinta di blog saya, saya hanya ingin menjaddi pejuang cinta yang sejati yang jalannya mengantarkan kepada jannah-NYA. Insya Allah. Bagaimana dengan Anda???

Hhh…cinta!again!

(Inspirasi “Jalan Cinta Para Pejuang” dan Pengalaman memaknai Cinta lewat tarbiyah)

Iklan

Goreskan setiap yang berjejak, ramaikan dunia dengan bongkahan ide yang membangkitkan inspirasi.. Insya Allah dakwah bil qalam.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s