HappySode Walimah (Refleksi Daurah Pernikahan)

Setengah enggan setengah ingin saya mengikuti daurah pernikahan beberapa waktu lalu. Sasarannya sudah terbaca, tujuannya tersingkap jelas…membangkitkan semangat menggenapkan setengah din. Seolah tau suara-suara sumbang yang terdengar, para Asatidzah dan Ummahat menggelar kegiatan tersebut melihat menurunnya bara azzam mencari pasangan se-visioner bagi ikhwan wa akhaawat, ditengah rindu yang mengetuk-ngetuk sanubari..aha…

Tak ingin terlalu bersemangat atau terlalu pobia, maka saya putuskan sedikit agak telat menghadirinya terlebih urusan pekerjaan rumah yang baru tuntas menjelang waktu yang disampaikan panitia lewat pesan singkat yang beredar jauh-jauh hari. Sekira satu jam dari waktu pelaksanaan saya tiba di meja registrasi. Awalnya saya menyangka kegiatan tersebut hanya dihelat khusus untuk para akhaawat tetapi tak disangka pintu masuk sudah dihijab rapi terbagi dua, yang berarti ada rekan disebelah ruangan. Hm….gabung tapi pisah istilah kerennya. Tapi, dasar rejekinya dapat semua materi kegiatan baru saja dibuka setibanya saya di meja registrasi. Karena telat, saya harus mencari posisi yang masih kosong dan itu jatuh di shaf belakang tentunya. Tak apalah, toh suara Ustadz akan terdengar ke seluruh pelosok ruangan.

Ups, saya lupa ditangan saya juga ada selembar biodata kosong siap diisi. Biodata yang akan masuk ke map bersama biodata-biodata lain sejenis yang sewaktu-waktu bisa keluar bila takdir Allah berlaku. Masih setengah enggan dan setengah ingin saya mengisinya, seorang adik yang sedari tadi bersama saya sejak dari meja registrasi hingga posisi duduk hanya tersenyum-senyum melihat saya, ianya sedikit lebih muda..dan menyemangati saya untuk mengumpulkannya segera pada panitia. Belum sempat saya mengisi seluruhnya, materi sudah dimulai dan saya putuskan melipat dan menyelipkannya disela-sela buku dalam tas. “Entar dilanjut” pikir saya.

Pemateri pertama oleh Ustadz H. Mansyur Salim, beliau mengangkat Problematika Pranikah. Dari awal hingga akhir, catatan saya hanya sedikit. Karena Ustadz lebih banyak menceritakan pengalaman indahnya berumah tangga. Kesimpulannya cuma dua, Musyawarah dan Istikarah. Musyawarahkan pernikahan dengan pihak terkait dan Istikharah-lah memohon petunjuk. Oh ya, satu lagi istikkharahnya jangan lewat tiga hari katanya, karena rawan pengaruh dan bisikan syaithan.

Pemateri kedua ada Ustadz Syamsuddin Kurru, spesialisasi khitbah mengkhitbah. Beliaulah yang selama ini telah banyak menikahkan Ikhwaan wa Akhaawat. Genre yang beliau bawa adalah Teknik Jitu Melobi Orang Tua. Waduh..pas nih buat saudare-saudare kite yang pada gagu bin kikuk kalau ngomong masalah nikah sama ortu. Belum apa-apa sudah maju mundur, kata ustadz seperti kura-kura. He..he…ternyata ortu yang notabene adalah manusia yang sudah merawat kita, adalah manusia yang paling “sulit” untuk menerima proposal pernikahan. Nah, trik jitunya dah disampaikan ustadz. Tinggal kita yang laksanakan. Ayo-ayo semangat!

Nah, pemateri ketiga..saya secara pribadi sudah lama tak mendengar suara beliau jadi ada rasa rindu mendengarkan taushiyahnya. Ustadz H. Muh. Ikhwan Abdul Jalil,Lc. Dengan judul yang cukup menghentak juga, Sudah Saatnya Menikah. Diawal materi Ustadz memberikan kuis singkat. Pertanyaan cuma satu tapi, menohok juga. Sudah saatnyakah saya menikah?. Pilihannya cuma tiga. A. Sudah saatnya, B. Belum saatnya, C. Ragu-ragu. Saya ogah cerita jawaban saya disini. Tapi yang pasti, ustadz bikin peserta pada berpikir kalau mereka tak mungkin hadir di tempat ini kalau dahulunya ortu kita semua tidak nikah. Nah Lho????bukan cuma itu, kata beliau pernikahan adalah penyempurnaan karakter manusiawi. Terkadang kita menemukan pasangan yang berbeda karakter. Sang suami adalah pribadi yang cukup keras dan tegas ternyata berjodoh dengan isteri yang lembut dan ketika berbicara suaranya mendayu-dayu…banyak kan?? Ustadz juga membahas soal zina yang dibungkus pernikahan alias nikah mut’ah atau nikah kontrak yang banyak dilakukan oleh orang-orang syi’ah. Nikah yang menghancurkan nasab atau garis keturunan, sebab sang anak hanya dinisbatkan namanya kepada sang Ibu, bukan Ayah. Na’udzubillah min dzalik…

Last, ustadz H. Harman Tajang, Lc. Lulusan Sudan. Beliau mengupas habis soal Rambu-Rambu Nikah. All about walimah syar’i. nah ada satu slide yang bikin semua peserta tergelak tawa khususnya peserta Ikhwan yang kalau tertawa ndak ada matinya!

“Wahai Wanita, Semua Pria adalah Serigala dan Buaya kecuali Satu, yaitu…..Suami Anda Tercinta”

Kaki-kaki akhaawat yang meninggalkan ruangan seusai kegiatan seolah memberi warna baru, semoga harapan yang sempat terkikis waktu dapat diperbarui menjadi sebuah Happysode Walimah…

(‘Ala fikrah soal biodata….Kelupaan!:-))

Makassar, 17 Mei 2011

Ruang Kristiadi LAN Antang

Iklan

2 comments on “HappySode Walimah (Refleksi Daurah Pernikahan)

  1. Bismillah…

    Sempat bergumam, “Alhamdulillah saya gak datang..” Tapi diakhir tulisan, saya ingin menarik gumaman tadi dan berbisik, “Ya Allah, saya telah kehilangan kesempatan ilmu ini..”

    😥
    qadarallah.. syukran atas ilmunya kakakku..

Goreskan setiap yang berjejak, ramaikan dunia dengan bongkahan ide yang membangkitkan inspirasi.. Insya Allah dakwah bil qalam.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s