Malu

Bismillahirrahmanirrahim

Senin sore menjelang maghrib, Makassar diguyur hujan deras. Hari yang dingin dan basah itu adalah jadwal wisata hisbah bareng Ukhti Nurul. Wisata saya cepat berakhir karena cepat mulainya, sedangkan Nurul karena datangnya telat ditambah pembicaraannya seru maka hampir pukul 6 wisatanya baru kelar. Sambil nunggu,, saya nikmati sore itu diteras sebuah mushollah yang sepi. Tak berapa lama, Nurul keluar dari ruangan kecil yang ada di sisi mushollah yang masih menjadi bagian bangunan sederhana itu. Setelah meminta maaf karena sudah membuat saya menunggu lama akhirnya kami pun meninggalkan lokasi penjebakan (Eh…bukan!Lokasi wisata maksudnya) bersama salah seorang adik yang juga ikut wisata. Lumayan lah, bisa numpang mobil saudari sendiri, hemat ongkos..apalagi lokasi yang jauh menuntut kita naik angkot dan becak, tidak bisa berjalan kaki apalagi kalau waktunya mepet siang bolong pula bisa-bisa jadi roti bakar yang gesang..eh gosong..

Tapi, proses pengantarannya cuma sampai depan kantor DPRD dekat fly over karena rumah Ukhti Nurul berada di utara sedangkan rumah saya di selatan kota. Jadilah, naik angkot solusi tak terbantahkan.. Setelah menahan satu angkot yang lewat dengan lambaian tangan, saya naik dengan sedikit sigap khawatir supirnya melanggar peraturan lalu lintas berhenti sembarangan. Apalagi sudah mendekati waktu sholat maghrib. Saya memilih duduk disisi kanan belakang anglot tepat dekat dengan jendela yang terbuka. Setelah merapikan duduk, saya menyapu pandangan ke seluruh isi angkot. Penumpang tidak terlalu banyak. Hanya ada dua orang anak kecil yang duduk dihadapan saya beserta ibunya, dan 2 orang ibu-ibu disebelah saya yang sedang berbincang akrab. Sekian menit berlalu, tiba-tiba saya terkejut sewaktu dua gadis cilik dihadapan saya benyanyi riang. Entah itu lagu apa saya tidak mengerti, tapi hati saya miris. Gadis kecil ini sudah menjadi korban ghozwul fikr (perang pemikiran) di usia sangat belia. Terkadang mereka saling menegur jika salah dalam mengucapkan syair lagunya. Ingin rasa hati ini bertanya apakah mereka menghafalkan ayat Al Qur’an sefasih mereka menghafalkan lagu yang mereka didendangkan. Belum sempat saya bertanya, sang Ibu sudah menyuruh supir untuk menepi ke kiri tanda mereka ingin turun. Hhh…fikiran saya menerawang jauh, mencoba membayangkan apa yang dilakukan anak-anak tahfizhul Qur’an di saat yang sama. Sibuk dengan hafalan mereka, menjaga Al Qur’an tetap terpatri didalam dada-dada bersih mereka. Saya malu dengan usia yang kian bertambah namun hafalan masih minim..saya malu karena anak-anak disekitar kita lebih hafal dengan lagu dibandingkan dengan Al Qur’an..saya malu saat Al Qur’an dicampakkan, saat Al Qur’an hanya dipandang sebagai pelengkap atribut keagamaan semata, malu saat Al Qur’an ditinggalkan dan tidak diamalkan bahkan didakwahkan..Malu!

Iklan

4 comments on “Malu

  1. Ya Allah Ya Rabb…
    *muhasabah hari ini untuk esok yang lebih baik

    go! ayo maya! eh kok malah semangatin diri sendiri di blognya kak rezky? *garuk2 kepala

    terima kasih kakaku…
    aku menyayangi kakak.
    uhibbukifillah ❤

Goreskan setiap yang berjejak, ramaikan dunia dengan bongkahan ide yang membangkitkan inspirasi.. Insya Allah dakwah bil qalam.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s