Jawaban Untuk Adi Muliadi

original picture was from here

Bismillahirrahmnairrahim

Alhamdulillah wa barakallahu fiek atas kunjungan Adi Muliadi berikut permintaannya dalam kotak komentar Stop Pamer Aurat! Untuk memberi apresiasi yang besar atas permintaannya maka, saya memilih untuk mengulasnya dalam satu tulisan khusus. Hal ini bertujuan agar kotak komentarnya tidak jadi halaman postingan, sekaligus bisa dibaca oleh kalangan yang lebih luas. Untuk menjawab permintaan tersebut, berikut saya kutip komentarnya…

“saya membutuhkan sebuah pendapat dari anda tentang cara yang cepat agar jilbab bisa dipakai di indonesia terkhusus buat kaum muslimah sehingga jilbab tidak menjadi buah bibir di masyarakat sebagai busana yang kuno
syukran sebelumnya”

Ketika membaca permintaan tersebut maka, saya mendapati bahwa permintaan ini mengandung dua pokok permasalahan. Yang pertama, pertanyaan bagaimana cara cepat agar jilbab bisa digunakan oleh muslimah di Indonesia. Saya akan menjawab pertanyaan ini semampu saya. Melihat duduk permasalahannya, sangat mungkin untuk membuat muslimah Indonesia mengenakan jilbab syar’i dan untuk mewujudkannya dengan cepat maka, salah satu caranya adalah dengan menjadikannya sebagai sebuah undang-undang negara secara resmi. Entah itu sebuah peraturan pemerintah atau apa saja namanya yang jelas ia memiliki kekuatan hukum mengikat. Tetapi, ada riak yang tak dapat dipungkiri ketika hal ini diberlakukan. Isu ke”Bhineka-an” yang tidak pada tempatnya sering menjadi pemicu utama. Tak perlu jauh-jauh, mari kita melihat sejarah bagaimana tujuh kata dalam piagam Jakarta yang di kemudian hari menjadi cikal bakal dasar negara yaitu pancasila “wajib” dihilangkan karena alasan ke-“Bhineka”-an tersebut. Padahal, jika membacanya maka anak seumuran SD pun tau kalau tujuh kata itu ditujukan khusus untuk ummat Islam saja, bukan yang lain. Pada intinya saya tak ingin berlama-lama membahasnya disini. Toh bukan itu inti permasalahan kita. Jadi, bagi yang masih penasaran yuk baca sejarahnya.,

Mari kita berlanjut dengan jawaban pertanyaan tadi, ini masih pertanyaan pertama lho…nah, isu ke-“Bhineka”-an ini menurut saya cukup sensitive jika ditambah dengan isu-isu yang lain saudaraku. Isu pluralism, kebebasan, hedonism, dan isu-isu lain yang semakin memperparah keadaan.

So, memperjuangkannya menjadi sebuah hukum negara adalah sebuah keniscayaan tetapi saya akan lebih setuju jika perubahan itu datang dari kesadaran muslimah akan kewajibannya berjilbab dan menjadikan jilbab benar-benar menjadi sebuah pakaian yang hakiki yang sejatinya ketika seorang muslimah tidak berjilbab maka hakikatnya ia sama sekali belum mengenakan pakaiannya. Sehingga, sebuah perubahan besar dari bawah terus keatas (grass root) akan menjadi sebuah perubahan yang signifikan. Lantas bagaimana mewujudkan perubahan itu, maka dakwah adalah jawabannya. Tak sedikit muslimah belum paham kewajiban jilbab yang sebenarnya, saya sendiri pernah mengalaminya bahkan sering. Waktu itu, ada seorang adik yang mengutarakan keinginannya berjilbab. Saya sumringah bukan kepalang, tetapi saya tersadar bahwa saya harus membantunya agar niat itu kesampaian. Akhirnya saya bertanya mengapa ia ingin berjilbab. Jawabannya sederhana, karena ia ingin. Yah…hanya ingin. Lantas saya bertanya lagi, apakah ia paham dan tau dalil tentang jilbab, ia menjawab tidak. Disitu saya mengambil kesimpulan, sebenarnya sebagian besar muslimah hanya ingin tetapi belum paham seutuhnya. Disini berlaku hukum konsistensi dakwah, sebuah perubahan besar berasal dari perubahan kecil yang kontinyu. Langkah kecil itu adalah dakwah. Seperti kata Solikhin Abu Izzuddin dalam bukunya The Way to Win bahwa membuat sejarah adalah salah satunya dengan hukum konsistensi. “Air yang lembut dan halus bisa menembus batu karang karena konsisten.”

Yang kedua, saya menangkap pernyataan kekuno-an jilbab ditengah masyarakat. Ini dekat dengan kebenaran dan jauh dari kenyataan. Jauh dari kenyataan maksud saya adalah bahwa saya melihat tren jilbab. Menengok semakin maraknya dunia selebritis dan fashion memproklamirkan jilbab yang katanya stylish dan uptodate menjadikan jilbab tidak lagi dianggap sebagai sebuah pakaian yang kuno. Modelnya pun dipadankan dengan nama-nama artis yang mempopulerkannya. Inilah silih bergantinya mode jilbab sebagai sebuah hal yang jauh dari kenyataan kekuno-an. Tapi, jilbab –maaf- bagi saya itu tidak cocok disematkan dengan sekian banyak model yang trendy hari ini, saya lebih sreg menyebutnya penutup kepala atau yah paling banter kerudung lah. Mari menengok kata jilbab yang sebenarnya dalam Al Qur’an surah Al Ahzab ayat 59, Allah berfirman:

“Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Menurut Syaikh Bakr Abdullah Abu Zaid dalam kitabnya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Menjaga Kehormatan Muslimah memberikan defenisi Jilbab. Jilbab adalah bentuk jama’ dari kata jalaabib yaitu baju kurung yang tebal yang dikenakan oleh seorang wanita dari kepala hingga kedua kakinya sehingga menutupi seluruh tubuh, baju bagian dalam serta perhiasannya.

Lalu, bagaimana dengan mode “kerudung” sekarang??Silahkan membuat perbandingannya sendiri. Ketidakkuno-annya ini justru membawa dampak yang menjadi kontradiktif, apa pasalnya?sebab, sebagian besar muslimah menjadikkannya kiblat berpakaian sebatas mode tetapi sebenarnya jauh dari tuntunan syarat hijab yang sudah dicontohkan wanita-wanita terbaik dari kalangan Assalafushshaalih. Selain itu, disisi yang berbeda jika ada muslimah yang berusaha menegakkan syariat dan syiar hijab yang sempurna justru dianggap asing dan ekstrim. Inilah maksud saya bahwa jilbab itu kuno dekat dengan kebenaran.

Semestinya ini tidak perlu terjadi, jika semua muslimah memahami hakikat jilbab sebenarnya, bahwa jilbab adalah pakaian ketakwaan sehingga jilbab harga mati bagi bukti ketakwaan dan ketundukan sempurna seorang muslimah kepada Rabbnya.

Intinya, menjadikan jilbab sebagai pakaian muslimah di negeri ini bukan hal mudah tetapi sangat mungkin. Butuh proses dan proses itu adalah dakwah. Jilbab bukan pakaian kuno. Ia adalah trend yang tidak akan pernah mati. Usianya bahkan mengalahkan semua jenis pakaian di dunia ini. Kalau mode pakaian setiap tahun harus berganti, maka jilbab sangat fantastis, lima belas abad lamanya mampu bertahan sebagai pakaian yang tidak pernah tergerus masa karena memang ketakwaan itu selalu menggandeng penjagaan Allah.

Wallohu a’lam

Iklan

11 comments on “Jawaban Untuk Adi Muliadi

  1. Bismillah,,

    Kakaaaaaaak…….
    as-satrah mulai gemes…
    ini posting comment as-satrah yang ke-5 setelah berkali-kali putus koneksi di Laboratorium FISIKA UNM

    Tapi maunya ngoment…Gak mau nyerah…
    Harus ngoment…
    Dan……

    As-satrah cuman mau bilang,,
    JILBAB adalah “HARGA MATI” untuk mendapatkan diskon kemuliaan wanita dalam ISLAM
    Gak pake’ yah gak dapat..^^
    Wallahu a’lam..

    Barakallaahu fiik kak atas tulisannnya..
    Dan bagi kakak yang bertanya semoga kita dimudahkan dalam pemahaman agama ini

    ..UQ..

  2. syukran atas jawaban yang diberikan mudah-mudahan jawaban ini bisa menginspirasi saya untuk mngubah pola pikir keluarga saya yang notabene tidak memperdulikan atas kewajiban mereka untuk menutup aurat

Goreskan setiap yang berjejak, ramaikan dunia dengan bongkahan ide yang membangkitkan inspirasi.. Insya Allah dakwah bil qalam.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s