Pendidikan atau Eksploitasi??

Bismillahirrahmanirrahim

Tereksposenya kisah Siti anak berusia enam tahun yang berdagang bakso keliling kampungnya ke media massa elektronik mengundang banyak simpati masyarakat.

Pagi yang cerah di ahad ini sebelum saya melangkahkan kaki keluar rumah menuju tempat pertemuan rutin bulanan, saya menyempatkan diri melirik tivi barang sejenak guna mengetahui cerita hangat masyarakat Indonesia berikut seabrek masalah bangsa yang tak kunjung habis. Mulai dari demonstrasi yang tak mereda akibat kenaikan harga BBM, wabah tomcat yang melanda daerah jawa timur, kenaikan harga sembako sebagai efek isu kenaikan BBM hingga berujung pada talk show tentang Siti si Bocah penjual bakso.

Stasiun TV yang mengundang Siti beserta keluarga diwawancarai oleh anchor dengan beberapa pertanyaan yang menurut saya sedikit “memaksa” sang Ibu untuk mengakui bahwa ini eksploitasi masa emas anak untuk belajar dan bermain dengan bekerja mencari nafkah. Bahkan Siti pun ketika ditanya apakah Ia merasa kelelahan dengan aktivitas berdagang bakso yang ditekuninya pun menjawab kalau Ia merasa lelah. Maka makin kencanglah sang Anchor mengejar. Meskipun saya memandangnya sebagai sebuah talik ulur program acara. Stasiun TV tersebut juga mengundang Ayah Edy. Tau Ayah Edy kan???Pakar pendidikan anak yang terkenal dengan slogannya “Lets make Indonesia strong from Home”. Wah, kalau belum tau segera kunjungi situs ayah sekaligus beli buku-bukunya. Soalnya kita semua Insya Allah jadi orangtua suatu hari nanti, sedangkan menjadi orangtua itu tidak ada sekolahnya. Nah, Kesalahan sebagian besar orang-orang yang ingin menikah adalah hanya menyiapkan hal materil seperti akan tinggal dimana setelah berumah tangga, tabungan calon buah hati atau hal-hal lain yang bukan esensi padahal mentalitaslah yang penting ketika kelak menjadi orang tua. Wah sepertinya penjelasan saya terlalu panjang, tapi itu sekilas tentang Ayah Edy. Lanjut ke cerita Siti tadi, Ayah justru menjawab kalau kita harus melihat kasus Siti dari sisi yang berbeda bahwa kasus Siti bukanlah bentuk eksplotasi anak, tetapi sebuah pendidikan tentang entrepreneurship. Ayah bercerita kalau masa kecilnya pun berjual es mambo di sekolah dan dari pengalaman itu beliau belajar tentang arti kerja keras dan ia menganggap itu adalah didikan dari sang Ibu.

Anak Indonesia hari ini menjadi pasif karena mereka hanya diajar menghafal mata pelajaran di sekolah. Anak Indonesia yang duduk di bangku sekolah dieksploitasi untuk mempelajari berbagai macam pelajaran yang berjejal-jejal. Bayangkan saja untuk siswa SMP harus belajar sampai 16 mata pelajaran sedangkan SMA mencapai 20 mata pelajaran. Nah itu untuk sekolah yang sudah mengaku sebagai sekolah yang berbasis kompetensi. Sebagai bahan renungan juga, saat kita belajar satu mata pelajaran kan gurunya beda-beda. Perbandingannya satu guru menghadapi 25 sampai 40 anak, betapa tidak adilnya. Satu mata pelajaran dengan satu guru untuk empat puluh anak dengan dua puluh mata pelajaran. Masyaa Allah betapa tidak adilnya. Anak diminta menguasai dua puluh mata pelajaran sedangkan guru hanya menguasai satu bidang saja! Guru kompeten di satu bidang saja bukan dua puluh bidang yang berbeda.

Satu lagi, bahwa pendidikan yang berbasis hafalan semata hanya akan melahirkan generasi pasif. Mengapa ketika terjadi gempa di Lampung pihak yang dahulu sampai ke lokasi bencana adalah bangsa Jepang??. Bisa jadi karena mereka dididik tentang bagaimana berbuat, bukan hanya sekedar menghafal saja. Anak semestinya ditanya apa yang mereka fikirkan tentang suatu kejadian, karena dari pertanyaan itu anak akan bertindak dan berbuat sesuatu bukan prihatin belaka bahkan menjadi penonton pasif. Pendidikan Berbasis kompetensi semestinya melahirkan generasi yang siap bersaing sesuai bidangnya masing-masing. Bukanlah sebuah kompetensi jika mereka mengusai seluruh mata pelajaran. Bukankah ini juga mengaburkan potensi anak. Makanya saya tidak heran ketika adik-adik binaan saya yang sedikit lagi menuju bangku kuliah rata-rata bingung akan lanjut kemana. Bahkan tidak jarang kita temui orang-orang yang bekerja jauh dari bidang yang ia tekuni dahulu waktu di bangku sekolah hingga kuliah. Pendidikan semestinya adalah pendidikan life skill seperti Siti tadi. Mereka diajar memiliki sikap dalam memandang masalah-masalah kehidupan. Karena sejatinya kehidupan bukanlah di bangku sekolah tetapi di masyarakat.

Nah, sang Anchor lalu bertanya lagi bukankah usia Siti ini adalah usia mereka untuk bermain. Dan sekali lagi ayah menjawab jika waktu sang anak dalam aktivitas rutinnya tidak terganggu maka sesungguhnya ini bisa menjadi pendidikan bagi sang anak. Yah, ketika Siti ditanya berapa uang yang ia peroleh dari berdagang bakso, ia menjawab dua ribu rupiah dan uang itu ditujukan untuk sang Ibu. Tidak ada beban sama sekali di wajah siti menjadi seorang pedagang bakso. Selama ini Ia hanya tinggal berdua dengan sang Ibu yang merupakan buruh tani. Sang Ayah telah meninggal sejak usianya dua tahun. Siti sangat ingin menjadi guru mengaji. Oh Siti..fitrah yang tak tercemar hedonisme dunia. Cita-citanya sederhana, guru mengaji. Sosok yang mengajarkan huruf hijaiyah satu persatu. Sampai disitu ada bulir bening yang menggantung di sudut mata saya..hari ini kita belajar dari sosok anak berusia enam tahun bernama Siti.

Menyaksikan kisah Siti tadi pagi mengembalikan ingatan saya beberapa tahun lalu saat masih dibangku sekolah dasar. Saya lupa tepatnya di kelas berapa, tapi saya sangat ingat bahwa saya pun pernah melakoni dunia dagang berdagang. Waktu itu, saya menjual aksesoris, cemilan snack ringan. Keuntungan sekali jualan seribu rupiah. Modalnya juga seribu rupiah. Jadi keuntungannya 100% dari modal. Jujur saja, saya merasa bangga bisa mendapatkan uang hasil jerih payah sendiri. Menanjak ke SMA saya pun masih menekuni perdagangan, yah hitung-hitung penambah uang transport untuk tarbiyah karena uang jajan yang pas-pasan mengingat jarak sekolah tak perlu ditempuh dengan angkot. Maka jadilah saya memilih menjual majalah Islam El fata. Keuntungannya tidak besar tapi, cukup untuk menunjang aktivitas di luar sekolah. Waktu di bangku kuliah dengan praktikum yang se-abrek tidak menyurutkan langkah saya untuk mengembangkan potensi entrepreneurship. Saya meningkatkan jenis barang dengan buku-buku Islam, herbal, baju muslimah dan jilbab. Alhamdulillah barang-barang tidak memerlukan modal, semuanya bersifat retur selama barang terjaga hinga tenggat waktu. Bakat menjahit pun tidak saya sia-siakan. Bermodal bakal menjahit itu, saya pun sering menerima order jahitan dari akhwat maupun teman kuliah. Lalu muncul tren aksesoris dari kain felt atau flannel, untuk mendukung bakat tersebut saya melengkapi diri dengan buku berkreasi dengan kain flannel. Teman-teman kuliah mulai memesan berbagai model baik dari jenis gantungan kunci, hiasan kamar dan juga aksesoris hape. Meskipun hari ini saya tidak lagi melanjutkannya sebagai sebuah profesi karena telah mengajar tapi, saya menjadikan kisah tersebut sebagai sebuah pembelajaran tentang betapa pentingnya bekerja keras dan betapa berharganya uang hasil jerih payah.

Kisah Siti terus berlanjut di stasiun TV tersebut, dan di akhir cerita datanglah seorang pengusaha yang tersentuh dengan kisah Siti. Pengusaha itu pun pernah hidup seperti Siti, penuh kesulitan dan kerja keras. Sang pengusaha siap membiayai Siti hingga sarjana bahkan telah menyediakan lapangan kerja untuknya…Subhanallah Alhamdulillah wallohu Akbar!

Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan (QS. Attaubah:105)

Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih (QS. Saba’:13)

Kerja keras bukanlah bermakna menghadapi kehidupan yang keras semata, tetapi kerja keras adalah saat kita mengerahkan seluruh potensi untuk menghasilkan karya terbaik untuk sesama (Akhwat Pejuang).

 

Iklan

16 comments on “Pendidikan atau Eksploitasi??

  1. Subhaanallah…
    Begitulah seharusnya pendidikan membelajarkan para peserta didik…
    Maka berbanggalah kalian yang akan ataupun telah menjadi seorang guru…
    Oh iya kak, saya juga jadi ingat pas waktu SD sempat jualan kue buatan Ummiku.
    Lelah tapi seru…
    Hmm, semua hal yang kita hadapi mesti dilihat dari berbagai sisi kan kak?
    Qonitah belajar lagi…
    Syukran kak…

  2. Mudah-mudahan kedepan akan ada sosok pemimpin yang lebih peduli dengan dunia pendidikan kita. menurut kami Pendidikan adalah modal yang sangat mendasar dan yang terpenting dalam memperbaiki segala hal. 🙂 🙂

  3. bagaimana lagi ,banyak hal yang mestinya dipelajari anak2, di sekolah sekian banyak mata pelajaran bisanya cuma memberi dasar nya saja,.. Sayangnya sekolah lebih banyak membuat siswa menjadi pemikir pasif, tapi menurut saya sudah semakin baik. pemerintah sedang giat2 nya membuat program agar siwa menjadi pemikir aktif,. guru juga tonggak yang harus berbenah diri…

    salam….

  4. multiple intelligent.. yg saya tau sejauh ini adl konspirasi yahudi untuk menjatuhkan ummat islam.. sy tdk menjelaskan panjang di sini.. kalo mau lbh jelas silahkan ke blog parenting nabawiyah ustadz budi ashari lc .. seorang hafidz Qur’an yang mengajarkan pada kita bgaimana nabi mendidik anak2 muslim…
    saya yakin yang terbaik hanyalah dari Qur’an dan hikmah.. maka.. kalo ngaku muslim.. gak usah pake trik pendidikan yahudi dan nasrani.. ikuti saja bagaimana Rosul mendidik..
    syukron

  5. ayah edy adalah “katanya” pakar parenting yang mengandalkan ” multiple intelligent”.. sejauh yang sy tau.. mutiple intelligent adl konspirasi yahudi dan nasrani untuk menghancurkan muslim muda.. be carefull bunda…
    sy bukan pakar.. tapi saya belajar dari pakar parenting nabawiyah.. seorang hafidz Qur’an lulusan fakultas hadist di univ madinah.. ustadz. budi ashari lc.. ada webnya ..
    sepatutnya sebagai muslimin/ah.. kita cuma menggantungkan cara mendidik anak hanya dari Qu’an dan Hikmah… lain nya pasti LEMAH … contohlah bgmana Rosul mendidik anak muslim… sehingga bisa jadi sekaliber Ali bin Abi Tholib.. (salah satu contoh keberhasilan Rosul)..
    salam tauhid ya bund… ^_^

Goreskan setiap yang berjejak, ramaikan dunia dengan bongkahan ide yang membangkitkan inspirasi.. Insya Allah dakwah bil qalam.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s