Catatan Serpihan

Bismillahirrahmanirrahim

Perjalanan itu terasa amat panjang, jiwa-jiwa yang melaluinya mulai merasa keletihan. Jeda sejenak untuk melepas letih dan menyeka peluh yang kian menganak sungai.

Image

Allah memberi yang kita butuhkan, bukan yang kita ingini..

Dalam jenak-jenak putaran waktu dan dalam gulungan-gulungan cerita yang kita ukir setiap hari, ada kata yang memonopoli hidup kita. Memonopoli untuk menyetujui egoisme kita, mendominasi untuk mengalahkan rasa kita maka dialah “Ingin”. Aku ingin begini, aku ingin begitu. Di tiap bait-bait do’a yang terpanjat, masih terselip kata “Ingin”. Tapi, “butuh” tak selamanya “Ingin” kita. Tahukah kita bahwa dalam rangsangan dan reflex ada ruang yang tercipta, disitulah letak “Ingin” kita dibenarkan, tetapi bahwa rangsangan dan reflex itu letak “Ingin” Allah pada kita. Bisa jadi “Ingin” kita sejalan dengan “Ingin” Allah, namun terkadang justru “Ingin” itu ambivalen. Maka, Ingin Allah adalah yang merajai Ingin kita, karena Allah paling tau “butuh” kita…

Apakah ini ujian, cobaan, adzab atau…???

Terkadang kaki kita tersandung, tubuh kita terjengkang, wajah kita terjerembab, oleh laku yang tercipta. Ianya datang disikapi bermacam-macam, merutuki takdir, menyalahkan orang lain, atau lari dari masalah. Namun, mestinya kesadaran kita disentak bahwa ini bukan sekedar ujian, cobaan atau adzab tapi ini adalah tarbiyah. Tarbiyah dari Allah untuk menggiring kita pada sebuah kesadaran paripurna tentang hakikat kita sebagai hamba atas laku, kata dan fikir kita yang tak sejalan dengan aturanNya. Maka, tiada mesti kita merutuki setiap sandungan itu yang justru baik dan membaikkan diri kita.

Antara logika dan nurani…

Adalah keniscayaan saat kita hidup dalam dua sisi logika dan nurani. Meski kadang suara nurani samar oleh bisingnya logika berargumentasi. Kita tak boleh alpa bahwa suara nurani yang bening itu menuntun kita menemukan jalan dari labirin-labirin argumentasi logika. Nurani berbicara perlahan dan lembut, ia tiada pernah menghakimi tindak tanduk kita. Namun logika senantiasa memberikan petunjuk matematis. Ada kalanya mereka berjibaku, saling berlomba memberi fatwa pada putusan kita, namun suara nurani adalah suara dahsyat yang mesti didahulukan. Mungkinkah mereka sejalan? Sangat! Sangat mungkin mereka bersinergi melangkah, memberi arah yang semakin terang benderang. Maka, hanya nurani yang bersih dan logika yang sehat yang mampu membuat putusan yang seiring dan sejalan.

Pantaskah??

Sudut ketidakpantasan tak melulu harus kita jadikan alasan yang tak berperi dari segala penolakan yang kita alami. Nyatanya, kita tak pernah kehabisan peluang untuk menjadi lebih baik. Ini bukan sekedar kita telah menerima penolakan, tapi sejauh mana penolakan itu telah mentransformasi diri kita pada satu titik “memantaskan diri” menjadi lebih baik. Mungkin penolakan adalah titik balik membenahi segala yang berhamburan dan tercecer kemana-mana. Ah, selalu saja kita butuh memenej sudut pandang. Seperti bulan yang memiliki sisi gelap dan terang. Sisi terang itulah yang nampak indah dari bumi, tapi ada sisi gelap yang tidak pernah kita candra sama sekali. Bahkan, bisa jadi sisi tak nampak itu akan indah jika diterangi oleh cahaya.

Jika sang pengetuk telah datang

Pernahkah pintumu diketuk? Diketuk oleh dia yang tak terduga. Lantas hati gelisah pada putusan untuk membuka atau tidak membuka. Bukankah dia tamu? Yah, tamu harus dijamu dengan baik. Tapi, tuan rumah memiliki hak untuk menyeka kaca yang buram, mengintip siapa sang pengetuk dan bertanya siapa dia. Atau bahkan membiarkan mentari menghangat agar terang siapa sosok dibalik pintu. Dan cinta pun brsemi di taman ketakwaan, kau tau? Karena rasa itu selalu bermain di sekitarnya, maka angin tak pernah memilih menerbangkan benih. Angin berputar, menghembus dan membawa benih yang bersedia menemaninya kemanapun tempat yang dituju.

Pada sebuah nama yang mungkin tak bertulis di Lauh Mahfuzh, kita masih yakin ada peluang yang tercipta di setiap ikhtiar dan doa. Kau tahu, sebab jodoh itu misteri alam semesta maka bisa jadi kau temukannya dari celah rerimbunan dedaunan, tetes embun berkilauan, semilir angin yang lembut, rintik hujan yang bersimfoni, hangat mentari di kala pagi dan pada siluet senja yang melembayung, namun satu yang pasti, biarkan ia menemukanmu dengan cara terindah sesuai dengan syariatNYA, maka itulah misteri yang menggetarkan jiwa (Catatan Kicau)

#Serpihan dialog yang berserakan

Ditepian 2012 menuju teras 2013

Iklan

18 comments on “Catatan Serpihan

  1. Bismillah. Well, semoga tamu yang datang juga tahu sopan santun. Paling tidak, jauh hari sebelumnya, dia harus memahami bagaimana gerangan pemilik rumah tersebut. Jangan sampai dia mengetuk pintu rumah yang salah.

    • awas, kelelep…

      Tiada yang luput dari catatan tersebut, bahkan benih yang tumbuh dalam gulita pun telah tercatat dengan rapi, pena telah diangkat dan lembaran telah kering
      yang jelas kita berikhtiar dan berdoa, tetap semangat!

  2. Hmm…sopan santun ataupun adab bertamu mungkin iya Ia miliki. Hanya saja, apakah sang tamu mendatangi alamat yang tepat? Tidak salah alamat ataukah nyasar? Salahpun tak apa-apa, silahkan masuk dulu. Ntar tuan rumah menunjukkan alamat yang tepatnya.
    Ataukah alamatnya memang benar? Lantas tamu seperti apakah yang datang berkunjung? Mungkin seseorang yang mulia. Bahkan bertahta! Sedang, sang tuan mungkin hanya seorang rakyat biasa. Hingga tuan rumah pun jadi bingung. Mau menyambutnya dengan cara apa? Bahkan ia nyaris tak mau membukakan pintunya karena “malu” pada sang tamu.

Goreskan setiap yang berjejak, ramaikan dunia dengan bongkahan ide yang membangkitkan inspirasi.. Insya Allah dakwah bil qalam.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s