Membangun Peradaban

Gambar

Ketika diberi masa untuk mencetak generasi maka, disitulah kita membangun peradaban.

“Hhh… sudahlah, kau tak membantu sama sekali. Aku menghubungimu untuk ditenangkan menghadapi ini. Tapi, sudahlah”. Desahnya lirih.

“aku bicara lebih realistis. Memang kamu butuh itu kan? Tapi ini sudah diluar kebiasaan”. Sergahku sengit.

“Sebentar kita lanjut. Aku sudah mau pulang dan tidak mungkin berbicara diatas motor. Okey?” lanjutku.

“Hmm… aku tidak janji bisa nelpon lagi. Assalamu alaaikum”

“kamu harus menelepon lagi, wa’alaykumussalam”.

Tut, tut, tut…

Telepon genggam ditanganku kumasukkan ke dalam saku tas. Senja kemerahan mengantarku pulang ke rumah. Itu percakapan dengan sahabatku via telepon sore itu. Sepanjang perjalanan aku berfikir, betapa kasihannya sahabatku menjadi guru yang tak digaji berbulan-bulan. Sekolah baru yang ditempatinya mengabdi belum mampu membiayai gaji guru-gurunya, karena masih harus berusaha memenuhi kelengkapan berkas agar layak dinyatakan sebagai sebuah sekolah berstatus negeri.

Sesampainya dirumah aku kembali menghubunginya, tapi kali ini teleponku direject. Entahlah, mungkin ia kesal karena harapan dikuatkan dari kegalauan klimaksnya kandas disapu badai kata-kataku. Aku ingat, nada sendu mengakhiri percakapan kami tadi. Mungkinkah dia marah?. Ah, tidak. Nadanya lebih dekat kepada lemas beradu argumen denganku soal pekerjaan tanpa gajinya itu.

Ba’da maghrib handphoneku berdering, tertera namanya disana. Dengan sigap aku mengangkat dan berharap mendengar suaranya lagi. Jujur aku sangat rindu padanya. Maklum, perjumpaan esok hari mengiming-imingi kami untuk melepas rindu berbulan-bulan. Alhamdulillah, aku ada jadwal tugas dakwah ke daerahnya.

Kali ini suaranya terdengar lebih renyah dari sebelumnya. Aku bertanya dengan nada menelisik ada apa dengannya tadi sore. Dia hanya menjawab pendek bahwa ia baik-baik saja. Aku tak serta merta percaya dengannya. Jiwa investigasi ala detektifku mencuat, mencoba mencari-cari celah dengan mengajukan berbagai tanya padanya. Dan karena kebiasaan itu, dia menjulukiku “Miss wanna know”. Akhirnya dia mengatakan sesuatu yang menghentak jiwaku. Dia menangis setelah berbincang denganku sore tadi. Merasa tak menemukan jawaban yang “baik” dariku atas keluhannya. Ingatanku kembali di sore tadi, apa yang sudah kukatakan padanya hingga tangisnya pecah. Ya, dan aku tersadar sesadar-sadarnya kalau sore tadi lisanku seperti matriliur yang memuntahkan peluru. Sepekan hanya sms-an tak terpuaskan sehingga semua yang menjadi topik di sms diulangi lagi ditelepon. Dan aku tak sadar sudah meruntuhkan jiwa positifnya.

“kenapa sampai sekarang kamu tak digaji? Hey, ini sudah berbulan-bulan. Tanggung jawabmu begitu banyak. Mengajar tiga mata pelajaran sekaligus. Belum lagi pelajaran tambahan di sore dan terkadang di malam hari. Sampai kapan begitu?” aku nyerocos panjang lebar. “lihat teman-temanmu, mereka juga sudah mulai menurun semangatnya”. Kali ini lebih sengit. Dan aku baru sadar bahwa sahabatku sebenarnya butuh kata yang lebih bijak. Ah, rasanya kesal berkali-kali. Aku sudah membuatnya terpuruk. Tak digaji dan tak didukung. Air mataku menetes menyesali kalimat-kalimatku. Maafkan aku sahabatku, kau tau aku tak semestinya berfikir begitu tadi. Tapi, ia menjawabnya dengan tenang.

“Aku menemukan jawabannya sayang.., Al Qur’an sudah menuntunku. Yah, Allah lah tempat kembali segala urusan. Tadi, setelah menghubungimu kuputuskan membaca Al Qur’an untuk menenangkan diri. Aku menangis sejadi-jadinya. Dan Allah memberiku jawaban”

Hai anak-anakku, Pergilah kamu, Maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir” (QS. Yusuf:87)

Aku terhenyak sesaat dengan penjelasannya, betapa Allah sayang padamu sahabatku. Ketika engkau linglung dengan langkah yang engkau ambil, Allah senantiasa menunjukimu jalan. Karena aku percaya, dari dulu hingga kini sejak hidayah menyapamu, kau selalu menjadikan Allah tujuanmu. Meski, engkau harus berjibaku dengan logika dan rasa tak pantas yang sempat hinggap dalam hatimu hingga engkau berazzam untuk berjuang untuk melulusi ujian keimanan dengan prestasi cum laude sampai maut menjemput.

—o0o—

GambarBetul sahabatku, kita tak boleh berputus asa dari rahmat Allah. Karena hanya orang kafir yang berputus asa dari rahmat Allah. Kita harus percaya bahwa setiap yang dilakukan oleh mukmin dengan ikhlas, maka selalu ada pahala baginya. Mungkin hari ini kita tak mendapat upah dari manusia, tapi bukankah ada upah dari Allah berupa pahala. Mereka yang meyakini hari akhir-lah yang akan percaya bahwa setiap kebaikan yang dituai akan meyimpan tabungan di akhirat kelak. Bukan hanya di dunia, tapi perbuatan baik menghadirkan benih kebaikan yang panjang.

Meski kita tak berharta, tapi pilihan menjadi guru adalah pilihan menjadi sosok penderma pengetahuan bagi muridnya. Pendidikan semestinya memanusiakan manusia. Dan itu yang aku dan sahabatku telah buktikan. Ia mengakui bahwa siswa yang ia didik (bukan sekedar mengajar) menunjukkan progress yang baik dari sebelumnya yang nampak ugal-ugalan. Aku tau, itu karena ketulusannya mendidik.

Sahabatku, mari ikhlas mengajar pengetahuan bagi siswa-siswa kita karena tugas kita adalah bermanfaat untuk ummat.

Dari Ibnu Umar bahwa seorang lelaki mendatangi Nabi shallallahu Alaihi wasallam dan berkata,”Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling diicintai Allah ? dan amal apakah yang paling dicintai Allah?” Rasulullah shallallahu Alaihi wasallam menjawab,”Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat buat manusia dan amal yang paling dicintai Allah adalah kebahagiaan yang engkau masukkan kedalam diri seorang muslim atau engkau menghilangkan suatu kesulitan atau engkau melunasi utang atau menghilangkan kelaparan. Dan sesungguhnya aku berjalan bersama seorang saudaraku untuk (menuaikan) suatu kebutuhan lebih aku sukai daripada aku beritikaf di masjid ini—yaitu Masjid Madinah—selama satu bulan. Dan barangsiapa yang menghentikan amarahnya maka Allah akan menutupi kekurangannya dan barangsiapa menahan amarahnya padahal dirinya sanggup untuk melakukannya maka Allah akan memenuhi hatinya dengan harapan pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang berjalan bersama saudaranya untuk (menunaikan) suatu keperluan sehingga tertunaikan (keperluan) itu maka Allah akan meneguhkan kakinya pada hari tidak bergemingnya kaki-kaki (hari perhitungan).” (HR. Thabrani)

#tulisan ini saya persembahkan khusus untuk sahabatku tercinta di jalan Allah, Erny Madjid. Do ur best!Kita sedang membangun peradaban dengan tangan-tangan kecil kita.

Iklan

4 comments on “Membangun Peradaban

Goreskan setiap yang berjejak, ramaikan dunia dengan bongkahan ide yang membangkitkan inspirasi.. Insya Allah dakwah bil qalam.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s