Pakaian Takwa

sumber gambar: google

sumber gambar: google

Ketika wahyu itu turun dan dikabarkan pada mereka lewat lisan suami, saudara, ayah atau kaum muslimin lainnya, seketika itu pula mereka mencari celah bumi untuk bersembunyi melindungi diri dari pandangan manusia, menarik apa saja yang berada disekitarnya untuk segera merealisasikan titah Langit yang agung itu. Tak ada komentar berlebihan, keluh ataupun kesah. Hanya sami’na wa atha’na. Kepatuhan sesegera gelombang suara menyentuh indra pendengaran. Itulah kisah saat ayat tentang standar pakaian muslimah di masa pekatnya wahyu melingkupi diri mereka. Tak ada beban, justru kemerdekaan tanpa batas, terbebas dari belenggu pakaian yang menjadikan tubuh mereka sebagai tontonan. Itulah penanda bahwa sebelumnya wanita di zaman tersebut juga mengumbar keindahan tubuhnya. Maka jangan heran jika jilbab bukan produk budaya, ia adalah titah agung Sang Pencipta untuk makhluk bernama wanita.

Hingga abad ini, pakaian itu masih langgeng untuk dikenakan. Meski hari ini trennya kian menjadi-jadi. Jilbab semula adalah kemerdekaan, kemerdekaan dari beban berat badan sebagai brand image ke-seksi-an wanita, kemerdekaan dari kungkungan penilaian tampilan, kemerdekaan dari aliran mode yang menjerat hebat. Sejatinya jilbab adalah kemerdekaan bagi wanita. Pakaian takwa itu adalah kesejatian kebebasan menjadi diri sesungguhnya tanpa berbalut topeng make up dan style yang dibuat-buat. Namun apa lacur, saat jilbab menjadi tren yang akhirnya terseret pada arus fashion yang menuntut up to date. Saat tersebar benih mode yang katanya “dakwah” agar tak ada ketakutan berhijaab tanpa style. Lalu, bilamana hijaab mentok modelnya? Semoga juga tak membuat penggunanya mentok dan akhirnya melepaskannya dengan alasan tidak stylish dan up to date, na’udzubillahi min dzalik.

Hijaab harus dikembalikan pada kesejatiannya sebagai pakaian takwa. Takwa yang melahirkan kesederhanaan dan qana’ah. Takwa yang tersimpan rapi dan tersembunyi dari pandangan mata manusia. Takwa yang tak ingin melahirkan jerat-jerat popularitas. Dialah takwa yang jauh tersimpan dalam dada pada sebuah tanah lapang bergelar hati. Jika hijaab justru menjadi jejak yang mengantarkan kita pada sebuah bibit niat “tampil” dihadapan manusia, maka layaklah niat ini dikonstruksi ulang. Sebab Hijaab adalah bukti kebersihan hati. Yah, sejatinya hijab adalah pengejewantahan takwa itu sendiri. Tengoklah sesekali ayat-ayat cinta Sang Maha Perkasa pada kita, saat Ia menyeru titah hijab hanya bagi wanita beriman. Maka, titah itu seyogyanya membuat kita tercerahkan dengan predikat iman sedang iman itu sendiri adalah pada apa yang kita yakini, ucapkan dan amalkan. Iman, jilbab dan takwa adalah satu paket produk yang tak dapat dipisahkan. Disebabkan iman padaNya kita berjilbab dan disebabkan takwa padaNya kita berjilbab. Maka tentu saat tata laksana pengenaan hijaab yang menutupi seluruh anggota tubuh tak lagi diributkan. Begitu  pula saat hijaab mesti luas lagi tak sempit, tidak tembus pandang serta sederhana itupun tak perlu diperdebatkan. Cukuplah keimanan yang bermain untuk menggerakkan pemenuhan limitasi tentang hijaab. Inilah jihad kita sebagai wanita, merealisasikan hijaab yang sebenar-benarnya.

Iklan

5 comments on “Pakaian Takwa

Goreskan setiap yang berjejak, ramaikan dunia dengan bongkahan ide yang membangkitkan inspirasi.. Insya Allah dakwah bil qalam.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s