Anak Kecil yang kuberi nama Hujan

rain.jpgAnak kecil. Dulu, saya berdiri di hadapannya sebagai si tentor biologi,  tapi ternyata kelak kami akan berdampingan saling tertawa, bukan sebagai tentor lagi tapi teman se-ma’had dan se-kantor. Meski begitu, saya masihlah si kakak, dan dia masih si adik. Kami bukan saudara kandung. Boro-boro. Dia tinggi, saya tingginya gak amat-amat. Dia tirus, saya bulat meski sama-sama tak layak disebut berat ideal. Hujan, saya memberinya nama itu. Nama yang menurut saya terpaksa saya beri karena untuk memberinya nama bunga, saya tak sanggup. Saya tak sanggup kalau dia jadi bunga yang diinjak-injak sapi atau sejenisnya. Hahaha.. Peace.. Memberinya nama pelangi, dia Cuma muncul sesekali, baiklah kamu hujan saja yah dik. Simpul saya malam itu. Dan dia pun bersorak.

Suatu waktu, kakaknya yang adalah teman sejawat saya semasa kampus dulu akhirnya berkomentar. “Ukhti.. jangan gaul sama adik saya. Dia membawa pengaruh buruk untuk ukhti”, dengan tertawa saya katakan bahwa kegilaan saya bersama adiknya bukan karena pengaruh adiknya, tapi memang dasarnya saya memang gokil. Tampang saya saja yang bawaan orok over serius sampai dikira jutek dan sangar.

Anak kecil. Sekali lagi dia memang anak kecil. Suaranya cempreng membahana. Sayangnya cempreng itu mendadak hilang kalau sudah dialirkan dalam alunan nasyid arab. Oke, dia anak kecil sang vokalis. Begitu kami memanggilnya di kelas. Vokalis. Maklum, suaranya tidak merdu-merdu amat kalau dibandingkan dengan vokalis kelas sebelah yang bisa bikin penonton menganga tak berdaya, tapi memang suaranya pas dan enak didengar. Maka wajar kalau dia bisa dengan pe-denya menawarkan diri saat ada mashrohiyah kelas untuk penampilan nasyid. Dan ajaibnya, dia selalu mendorong saya ikut-ikutan jadi backing vokalnya. Saya diperintahnya pecah-pecah suara katanya, yassalaaam..

Anak kecil. Yah dia masih kecil, tapi dia terpilih jadi ketua BEM putri. Padahal sejujurnya dia tumbal saya. Saat ustadzaat nodong saya jadi ketua, meski dengan sejuta alasan saya menolak akhirnya saya sodorkan namanya sebagai pengganti. Dan terjadilah, Hahaha..peace lagi.

Anak kecil. Yah dia masih kecil, hingga suatu hari saat dia sibuk mencari lelaki taat untuk jadi imam bagi kakaknya. Kesana kemari menyodorkan biodata. Nasib tak berpihak pada biodata itu, tapi berpihak padanya, saat akhirnya sekarang ia sedang bersiap menggenapkan separuh din. Saat akhirnya dia yang kecil itu berjuang. Yah si kecil itu memperjuangkan agar agamanya tergenapi. Dan saya tak salah memberinya nama, hujan. Hujan yang bermakna kebaikan setelah turunnya. Terima kasih untuk kehadiranmu dik kecil. Besok saat addin-mu tergenapi, tetaplah doakan sang kakak ini. Titipkan namaku dalam doamu. Karena saya yakini setiap kali engkau berdoa, doamu istijabah.

Iklan

3 comments on “Anak Kecil yang kuberi nama Hujan

  1. Hemmm, ini catatan sangat ambigu untuk saya. Satu sisi sangat menyenangkan, membahagiakan. Tapi kenapa paraghrap terakhirnya nyesek banget di dada, apalagi bagian menyodorkan biodata sang kakak kesana-kemari, wkwkwk… *perasaan jujur sang pemilik biodata 😀

    Nice story. Semoga yang nulis segera menyusul menggenapkan separuh addin-nya ^^

    Btw, tunggu kepulanganku ya 😉 *maksa

Goreskan setiap yang berjejak, ramaikan dunia dengan bongkahan ide yang membangkitkan inspirasi.. Insya Allah dakwah bil qalam.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s