Pakaian Takwa

sumber gambar: google

sumber gambar: google

Ketika wahyu itu turun dan dikabarkan pada mereka lewat lisan suami, saudara, ayah atau kaum muslimin lainnya, seketika itu pula mereka mencari celah bumi untuk bersembunyi melindungi diri dari pandangan manusia, menarik apa saja yang berada disekitarnya untuk segera merealisasikan titah Langit yang agung itu. Tak ada komentar berlebihan, keluh ataupun kesah. Hanya sami’na wa atha’na. Kepatuhan sesegera gelombang suara menyentuh indra pendengaran. Baca lebih lanjut

Iklan

Berapa Kali??

Bismillahirrahmanirrahim

Berapa kali kita diciptakan? Sederhananya, berapa kali kita hidup?

Sekali?

Tidak!

Tapi, dua kali.

Kita sedang berada pada kehidupan yang pertama. Kehidupan di dunia ini. Disini, menyaksikan pemandangan yang indah, yang akrab dengan kita sejak bangun hingga terlelap.

Apa saja yang kita saksikan?

Banyak!

Ada mereka yang belajar, ada mereka yang bekerja, ada yang bertransaksi, kendaraan yang berlalu lalang, ada mereka yang berbicara, ada mereka yang tertawa, ada mereka yang tertidur, ada yang makan, ada yang senantiasa sujud, ada yang mentadabburi Al Qur’an, yah.. disini kita hidup, menjalani setiap fase yang telah digariskan kepada kita. Bersama keluarga, sahabat, kawan, suami ataupun isteri, tetangga, kenalan.

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).(QS. Ali Imran:14) Baca lebih lanjut

Lurus dan Rapatkan Shaf!

Bismillahirrahmanirrahim

Belakangan ini saya dibuat gemes oleh curhatan adik-adik saya yang mengadu tentang komentar miring orang-orang saat mereka ingin mengamalkan syariat dengan rapatnya shaf saat shalat. Tak sedikit dari mereka yang akhirnya harus tunduk malu karena makmum pada gerah oleh kerapatan shaf yang mereka buat. Parahnya lagi, saat adik-adik saya yang ingin mencari justifikasi dari mereka yang dianggap berilmu ternyata mendapati  jawaban yang semakin aneh. Ujung-ujungnya mereka kembali merasa menjadi ghuroba dengan pemahaman manusia kebanyakan. Setiap kali berjumpa dengan saya tiap pekannya, ada-ada saja curhat macam begini yang saya temui, dan sekali lagi saya mengingatkan standing position mereka sebagai mukmin yang paham akan ilmu. Adakalanya komentar miring macam ini mereka temui “Yang rapat itu cukup sajadahnya saja” atau “yang rapat dan lurus itu cukup siku dengan siku, jangan memaksa kalau memaksa itu ajarannya keras” Hah???Masyaa ALLAH… Baca lebih lanjut

Stop Pamer Aurat!!

Saya mau berbagi pengalaman dengan mereka yang mengaku dirinya wanita muslimah. Yang mengakui Allah sebagai Ilahnya dan Rasulullah sebagai utusanNya. Juga kepada saudari-saudari saya yang masih ragu dengan janji Allah. Ini semua kumpulan pengalaman pribadi yang saya alami di sepanjang perjalanan menyusuri jalan di kota ini. Sedikit malu juga sebagai wanita. Ceritanya begini, waktu itu saya sedang jalan di depan pusat perbelanjaan di jantung kota Makassar, nah di tepi jalannya berjejer tukang becak yang kadang sedikit maksa untuk ditumpangi. Hmmm…mungkin tuntutan profesi dan asap dapur (hehe..). pas turun dari pete-pete (istilah angkot di Makassar) saya lantas melanjutkan perjalanan dengan kaki, soalnya kalau berhenti lebih depan lagi, khawatir supirnya bisa ditilang.

Cerita punya cerita, dalam perjalanan itu di depan saya juga ada seorang wanita yang berpakaian yang sangat kontras dengan kostum saya sebagai muslimah. Baca lebih lanjut

Saksikanlah Bahwa Aku Seorang Muslimah!

Finally…jika saya harus memperoleh semuanya dengan konsekuensi perpisahan dengan sahabat saya, maka saya memilih untuk tetap pada pendirian awal bahwa saya tak ingin mengetahuinya..maaf saya tidak terpancing untuk itu…

Yah…saya adalah wanita. Wanita yang menurut teori memiliki kelemahan, wanita yang cenderung mengedepankan perasaan daripada logika, wanita yang mudah larut oleh suasana lantas terjerembab dan ketika telah sadar lantas berlinang air mata..yah, itu wanita…

Tapi, maaf…saya bukan sekedar wanita. Saya bukan sekedar perempuan yang lahir juga dari rahim perempuan. Tapi saya muslimah. Islam telah mengangkat saya, Islam telah memuliakan wanita. Yah, saya wanita… tetapi saya wanita Islam.. yang punya kacamata agama dalam menimbang. Yah saya wanita…saya punya rasa, tetapi saya adalah muslimah yang dibina dengan wahyu bahwa rasa tak boleh melumpuhkan nalar. Kain-kain rombeng yang ditawarkan kepada saya tak akan saya tukar dengan sutra terbaik yang pernah saya pintal dengan air mata dan pengorbanan. Saksikanlah bahwa saya adalah muslimah…

Baca lebih lanjut

Seikat Kata Maaf

Mari bercermin sejenak pada sebuah telaga bening bernama hati. Semoga kedalamannya memberi satu peluang bahwa masih ada ruang untuk sekedar membuka harapan pada sebuah kata maaf. Semoga telaga itu tak keruh penuh dengan prasangka, curiga dan kemarahan..

Tulisan ini saya buat untuk mewakili hati yang bersalah. Bersalah karena telah menyembunyikan satu hal yang besar menurutnya. Ianya tak berbohong, hanya tak ingin memberikan celah bernama kemarahan untuk berkuasa. Meski ia tau bahwa efek domino yang terjadi akan lebih besar bahwa ia tak akan dipercaya lagi. Ia memohon diampunkan karena tak ingin membagi duka pada banyak pribadi bukan karena ia tak percaya tapi karena ia tak ingin menyusahkan pihak yang memiliki tempat sendiri di hatinya, saudaranya. Ia menyimpuhkan kedua belah tangannya atas sikap yang tiada berkenan dibanyak kesempatan atas puluhan tanya untuk berkata “ya” sebagai jawabannya. Tapi mari beri sedikit momen untuk jiwa melihat jauh lebih dalam. Baca lebih lanjut

Cinta?Again!

Qalbun Saliim

Again!topik yang bagi saya tak pernah habisnya untuk dibahas oleh siapa saja dan dalam masa yang tak pernah lekang. Cinta…memaknainya tak butuh sederet teori. Memaknainya tak butuh ratusan seminar atau talk show. Karena ia bukan kata sifat atau kata benda. Cinta, amor, love, hubb or aid dan sejumput kata asing lain adalah sebuah kata kerja. Maka memaknai cinta adalah memaknai kerja. Lalu bagaimana dengan proses kerja itu sendiri?. Cinta bekerja dengan awalan men- bukan di-. Mencintai berarti memberi cinta, bukan dicintai yang berarti diberikan cinta. Hidup yang penuh dengan kerja untuk men-cintai, adalah sebuah hidup untuk memaknai hidup.  Sebagian besar bahkan kebanyakan orang lebih berfokus untuk menunggu cinta yang dicintai tanpa berfokus untuk memberi cinta pada yang dicinta. Hm…cinta..

Suatu hari seorang sahabat pernah berkata begini pada saya, Baca lebih lanjut

Jalan itu telah kau pilih, maka susurilah….

Jalan terjal dan sulit

Memilih jalan dakwah sebagai jalan hidup bukanlah pillihan mudah, bukan pula jalan yang serupa dengan jalan berhias taman dipinggirannya apalagi serupa jalan tol yang bebas hambatan. Memilih jalan dakwah adalah pilihan besar yang pasti ujungnya adalah jannah-Nya. Seringkali terdengar sebuah keluhan hati dari saudari disekitar kita bahwa mereka lelah dengan jalan yang telah mereka pilih tersebut, yang jika keluhan itu tidak segera di “treatment” berakibat pada mundurnya mereka dari jalan dakwah ini yang secara otomatis menambah lagi para penonton bukan pemain. Jalan dakwah ketika telah dipilih sebagai jalan hidup maka, pada hakikatnya orang-orang yang telah mundur dari jalan tersebut adalah orang yang sedang tidak berada dalam hidupnya. Ibarat ikan yang keluar dari air lantas menggelepar dan mati. Allah seantiasa memilih hamba-hambaNya yang siap berjuang menegakkan kalimat tauhid. Seorang Ustadz pernah berkata bahwa Allah senantiasa menjadikan dari hamba-hambaNya itu orang-orang yang berjuang dijalanNya dengan harta dan jiwa mereka yang dengan perjuangan itu mereka telah menukarkan hidupnya dengan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Bukan itu saja tetapi mereka akan diberikan kemenangan yang besar. Suatu janji yang tak mungkin diingkari. Baca lebih lanjut