Putri Pelangi dan Putri Bulan

Saya lebih senang memanggil keduanya dengan putri-putri bias cahaya. Karena pelangi terlukis oleh bias mentari dikala hujan, dan bulan bercahaya merefleksikan sinar mentari.

Gambar

Putri Pelangi

Dia datang tanpa diduga di saat saya lebih suka menyudut di ujung belahan bumi silih berganti. Kemampuanya menyungging senyum bagi siapa saja yang bersua dengannya. Ah, membayangkannya bersanding dengan lelaki hujan sungguh aku tak sanggup. Meski saya sangat tau, gelar putri pelangi dan lelaki hujan agaknya serasi gak ketulungan. Baca lebih lanjut

Menulis itu (Gak) Gampang?!

“Hati-hati nulis!”

“Awas mengumbar kehidupan pribadi!”

“Jangan lebay deh dengan tulisan kamu!”

Sejumput pernyataan model begini sudah beberapa kali berseliweran. Warning buat kita-kita the bloggers mania yang hobby nulis dan posting tulisan di dunia maya. Buat yang sudah ahli berolah kata dengan kalimat sendiri, tidak lebay ketika nulis memang hal yang mudah. Atau untuk mereka yang sudah biasa buat artikel. But, buat kita-kita (maksud saya, khususnya saya gitu!!) menulis kehidupan pribadi dalam blog lebih mudah dibandingkan harus ngopas sana sini biar blog ramai tulisan juga bukan pilihan yang urgen. Toh orang bisa dapat itu dari situs utamanya?. Sampai disini alasan pertama bisa jadi argumentasi yang mapan. Atau saya tambah lagi satu biar genap argumentasinya, mengambil kehidupan pribadi lebih bisa termaknai dengan  menarik benang merah agar di kemudian hari kita bisa menyimpulkan”yah ini dia pelajaran hidup”.

Memang, diakui aktivitas menulis adalah aktivitas yang tidak semua orang bisa menggelutinya. Menulis adalah sarana menyampaikan opini, persepsi, argumentasi dan seikat makna lain yang serupa. Sarana yang terkadang bisa lebih menyentuh dibandingkan dengan berbicara langsung. Meskipun harus pula diakui kalau apa yang kita tulis juga kudu bin wajib dipertanggungjawabkan. Kenapa?karena jari jemari menggantikan posisi mulut dalam berbicara. So pasti itu berarti hukum lisan pun berlaku padanya. Sebagaimana pula lisan yang harus menyampaikan yang baik-baik saja, maka tulisan pun harus menyampaikan yang baik-baik saja.

Saya sedikit tergelitik ketika membaca sebuah uneg-uneg seseorang yang mengkritisi kehadiran blog-blog pribadi akhwat Baca lebih lanjut

Untukmu Yang Telah Menggenapkan Setengah Din

Ikhwan Akhwat Walimah

Saudariku…

Sebuah perjalanan hidup selalu melewati fase-fase yang kadang menghentak, menggairahkan, menyadarkan, membuai, menggembirakan dan adakalanya mengecewakan.

Tapi, selalu ada pesan singkat untuk nurani bahwa Allah ingin pesan itu mendewasakan, membijakkan dan menguatkan kita sebagai hambaNya agar jelas siapa yang betul-betul beriman dan siapa yang kafir.

Pun ketika telah diutus seseorang untuk mendampingimu dalam mengarungi sebuah perjalanan panjang mengikuti sunnah NabiNya hingga berlabuh di Jannah-Nya kelak, maka ku harap ada azzam yang kuat untuk tetap bersama baik dalam hantaman gelombang yang mengguncang  atau sepoi angin yang membuai… Baca lebih lanjut

Ada Cinta di KKN

Lantang

Genap 2 bulan saya ditugaskan di lokasi KKN, sebuah desa terpencil disalah satu kabupaten di Sulawesi Selatan. Diawal perjalanan masih terngiang setiap kalimat nasehat akhwat agar terus istiqomah, betapa hati ini terus bersyukur diberikan saudara yang selalu mengingatkan. Mulai dari nasehat buku apa yang harus dibawa untuk bekal dakwah, cara bergaul dengan teman seposko yang lawan jenis, jangan sampai putus kontak sampai yang paling ekstrim hati-hati dengan cinlok alias cinta lokasi. Cinta yang banyak melanda mahasiswa yang sedang dalam tugas mengabdi pada masyarakat. Cinta yang katanya membuat masa-masa KKN yang panjang menjadi lebih indah dan menyenangkan. Akankah saya bisa bertahan??Jauh dari saudari-saudari seperjuangan, jauh dari halaqah tarbiyah, jauh dari kesibukan yang menyita sebagian besar waktu saya saat berada di Makassar..Ya Rabbi..Akankah??Akankah saya bisa bertahan ditengah-tengah pergolakan batin yang menyeruak tajam saat syari’at Allah dilanggar dihadapan mata lantas saya hanya bisa menegur dalam gumam yang tak terdengar… Baca lebih lanjut

Sepatu

Sore mengantarkan malam sebelum bertugas dengannya, ada segores awan putih yang tersketsa dilangit, nampak bawakaraeng tersapu sinar mentari yang sebentar lagi menuju peraduan, diikuti oleh wajah kelelahan orang-orang diatas kendaraan menuju gubuk  masing-masing..saya baru saja pulang dari wisata hisbah yang rutin saya jalankan Insya Allah, kaki saya melangkah perlahan mencoba menikmati rambahan sinar mentari yang mulai menurun kegarangannya hari ini. . menapaki sudut jalan jantung kota Makassar.

Setiap beraktivitas diluar rumah saya sering menggunakan sepatu (Kalau telanjang kaki, ntar disangka gembel Q He….) Karena kebiasaan ini sampai-sampai akhawaat baru sadar, kalau mereka tidak pernah melihat saya memakai sandal sepatu atau sandal dihadapan mereka. Alasan saya cukup sederhana, dengan sepatu kaki saya lebih terasa terlindungi dan mudah melangkah tanpa khawatir sepatu itu akan terlempar jika saya terlalu bersemangat berjalan…(Pengen nendang bola mungkin….) Baca lebih lanjut

Mengapa enggan bergabung dalam kafilah dakwah?

“Afwan kak, ana tidak bisa ikut bergabung!”.

Sebuah sms mampir di inbox, pagi yang cerah itu dihentakkan oleh sms seorang akhwat yang kami ajak ikut bergabung dalam kafilah dakwah. Kepala saya sedikit berdenyut membacanya. Empat bulan lalu, sebuah sms yang sama juga saya terima. Sejenak saya merenung, mencoba menggali memori yang tersimpan rapi dalam benak. Ada apa dengan jalan dakwah ini?. Saya harus mengakui jalan dakwah bukan jalan yang mudah, namun agak miris hati saya manakala kalimat tersebut terlontar dengan mudahnya. Tak hanya  itu, setahun lalu saya kembali terngiang dengan percakapan seorang akhwat senior. Ia bertutur tentang seorang akhwat yang juga mundur dari kafilah dakwah dengan alasan yang sampai sekarang saya tak mengerti. Ia enggan melanjutkan perjuangan dengan berkata, masih banyak jalan lain untuk meraih surga Allah. Tidak hanya dengan jalan dakwah katanya. Pertama kali mendengarkan pernyataan itu, saya yang masih minim ilmu-pun membenarkannya. Mencoba mencari justifikasi atas pernyataann tersebut. Yah, betul surga Allah bisa kita peroleh dengan berbagai macam cara. Sedikit pernyataan itu mempengaruhi prinsip saya dalam berdakwah dalam amal  jama’i. tapi, seiring waktu saya kemudian tidak membenarkannya. Sebab, saya menjadi orang yang pertama membenarkan komentar akhwat yang menceritakan kejadian tersebut. Akhwat senior tersebut mengatakan…

“Saya pun harus mengakui dek, pernyataan itu benar adanya dek. Tapi, secara pribadi saya mengatakan insya Allah dengan jalan dakwah inilah yang akan mengantarkan saya menuju surga Allah. Dengan jalan dakwah ini, saya merasa bisa tetap istiqomah. Meskipun sulit, namun hati, pikiran dan  jiwa kita terarah untuk memikirkan tegaknya kalimat Tauhid diatas muka bumi. Meskipun hal tersbut tidak sebanding dengan pengorbanan para shahabat yang mengorbankan harta dan jiwanya. Tapi, Insya Allah saya berazzam untuk itu”. Hmmm…..dua tahun lalu saya masih menganggapnya sebagai sebuah kalimat idealis dari seorang akhwat. Tapi, seiring perjalanan waktu menjadi sebuah hal yang harus dipegang hingga akhir hayat.

Baca lebih lanjut

Kapan Nyusul???(Episode Walimah)

Saya baru saja bangkit dari peraduan di malam yang menanjak sepertiga yang pertama, hari yang cukup padat mengantarkan saya terlelap lebih cepat dari biasanya, tapi dasar tak biasa hanya dua jam mata ini kembali melek. Dan ketika terjaga, saya dikagetkan oleh sms dari salah seorang akhwat.

“Kak, sudah tau ada lagi akhwat yang akan walimah?”. Kembali teringat percakapanku dengan Akhwat Pembina soal akhwat yang akan menggenapkan setengah dinnya itu. Serta merta ku jawab singkat. “Iya”. Tak berselang beberapa detak jam, handphone kembali berdering. *Hm…wah hebohh nih…..*bisik saya dalam hati.

”Kakak taunya akhwat yang itu kan?”.

“Iya dek, siapa lagi. Sudah lama tersiar kabar itu. Kenapa?”

“ wah, akhwat laris manis yah?:-)”*Kali ini lengkap dengan smile lagi..duh dinda bisa saya bayangkan wajah sumringahmu melihat rekan-rekanmu dah menikah.

“Kapan nyusul kak?”*Pertanyaan yang sudah dua bulan ini sering terlontar dari akhwat-akhwat yang lebih muda pada kami yang “sedikit”lebih tua*he he he….enggan sekalian bilang tua ding!

Baca lebih lanjut

Anak Bukan Penghalang Dakwah

Puff….badan saya masih terasa lelah setelah beraktivitas seharian, inginnya sih langsung tidur pulas diatas pulau kapuk, merebahkan tubuh dan melepas penat. Tapi, khawatir inspirasi ini kelewat buat dituliskan, maka saya bangkit lagi lantas menekan tombol power laptop, saya lantas melangkahkan kaki menuju dapur, mengambil sebuah gelas keramik putih hadiah ultah kota Makassar yang ke-400 lalu menuang segelas teh hangat dan mengoleskan margarine pada roti tawar dan duduk di depan laptop setelah sebelumnya menekan beberapa tuts keyboard mengetik password sembari menyangkutkan headset dikepala mendengarkan radio melalui hp untuk tau situasi kota saat ini. yah, beginilah gaya saya menggali inspirasi, mengais kata-kata untuk dijejer rapi membentuk sebuah tulisan sederhana tentang hidup. Meskipun sesekali harus tersentak karena nada sms masuk yang memekakkan gendang telinga. Baca lebih lanjut

Episode Baru bersama Gadis Sipit

Saya melihat gadis itu ketika masih menjadi Mahasiswa baru di UNM, seorang gadis sipit dengan kepala yang tak dihiasi dengan jilbab. Saat itu saya mengambil kesimpulan, mungkin ia seorang gadis nasrani. Karena FMIPA UNM terkenal dengan kampus religious, jangan berani masuk kalau tak menggunakan jilbab. Tapi, ketika seorang akhwat mengatakan dia seorang muslimah, menurut saya dia terlalu berani untuk masuk kampus tanpa berjilbab. Meskipun saya tau, ketika di luar kampus dan di kos-kosan rata-rata mahasiswi menanggalkan jilbabnya seolah tak berbekas sama sekali makna perintah Allah tersebut untuk menjaga mereka. Kami berbeda jurusan tapi gedung kami saling berhadapan. Ia cukup menarik perhatian penghuni kampus, kulitnya yang putih dan parasnya yang tak membosankan plus karakternya yang supel, murah senyum serta sifat tomboy membuat ia memiliki banyak teman pria.

Saya masih ingat Waktu itu kami sebagai Maba diwajibkan mengikuti berbagai mata kuliah dasar sains baik itu kimia, fisika, kalkulus dan biologi berikut dengan praktikumnya, maka setiap gedung akan kami sambangi setiap harinya untuk “BURAS” alias Buru Asisten hanya sekedar meminta tanda tangan mereka. Bersama dengan rekan sekelompoknya pun ia menunggu waktu itu. Kami pun berpapasan di tangga, tapi tak saya temui sikap murah senyum tersebut diberikan pada saya. Yah..saya mencoba Baca lebih lanjut