Jadilah Pemenang Sejati

turn to Allah

Keindahan sesungguhnya dalam sebuah perjuangan bukan pada hasilnya. Tapi kenikmatan-kenikmatan yang timbul dari proses perjuangan tadi (Pepatah Bijak)

Hari-hari terasa begitu berat dilalui saat pendengaran senantiasa dibanjiri oleh matriliur kata dari yang dicinta. Mereka orang tua kita. Dari rahimnya kita lahir, dari tangannya kita merasakan hangat saat jutaan anak diluar sana ringkih dengan angin, hujan dan terik tanpa penghalang menerobos kulit dan tulangnya. Kita bersuka cita. Dalam suka cita, masa-masa berlalu. Kita mulai memahami arti hidup meski dengan mengeja dan terbata-bata. Kita memaknai hidup sesederhana angin yang menyapa awan hingga hujan hadir. Kita menyelami hidup sesederhana bahwa hidup adalah hadiah yang tak boleh tersiakan oleh sekedar cita-cita sebatas gelar duniawi. Kita mulai memahami, bahwa ada masa saat kita harus bertanggung jawab pada semua karunia itu. Baca lebih lanjut
Iklan

Suatu Yang Pasti

Bismillahirrahmanirrahim

Untuk suatu yang pasti, mengapa meragu?

Untuk suatu yang tak terbantahkan, mengapa tak bersiap?

Gambar

Adakah hal yang absolut didunia ini?? Ada. Itulah kematian. Kematian yang akan senantiasa mengintai setiap jiwa, yang harus selalu diwaspadai kedatangannya. Sebagaimana telah diberitakan dalam kalamullah yang tak terbantahkan, Baca lebih lanjut

Agar Bahtera Tidak Tenggelam

Bismillahirrahmanirrahim

Mata saya terus menerus memantau sudah sampai dimana update peserta yang ikut give away Kemilau Cahaya Emas (Hehehe..takut tersaingi..ah ndaklah..soalnya yang lain pada hebat-hebat sih, saya sih lewat..). sejak GA-nya di launchingkan, sang pemilik blog sudah mengabari kalau akan melaksanakan lomba dan hadiahnya adalah buku karangannya ditambah buku lain yang sepadan. Setelah melihat tanggalnya, saya berencana untuk berada pada urutan terakhir dan di detik terakhir sebelum pintu perlombaan menuju seleksi ditutup, sayangnya saya harus segera mengikutinya khawatir saya tidak kebagian tempat soalnya ruangan buat peserta lomba penuh sesak ditambah lagi semuanya duduk di kursi sesuai dengan nomornya. Saya hanya akan membuat sensasi bila duduk di kursi panas yang terakhir. Bayangkan jika semua mata tertuju padamu dan meminta cap jempolmu hehehe… *ngarep.com*

Hhh…maka akhirnya dengan memohon ridho Allah saya menuliskan aksara saya setahap demi setahap ditengah aktivitas saya mempersiapkan materi pelatihan dan seminar di malam ahad awal februari ini.

Dari sekian banyak tulisan di blog Kemilau Cahaya Emas yang semakin menyilaukan namun tetap menjadi lentera itu, saya sempat dihinggapi kebingungan memilih tulisan yang mana yang harus saya jadikan ulasan. Maklum, semua tulisannya bagus sih..(Hehehe..May, ini bukan dalam rangka nyogok pakai pujian yah?!Soalnya, saya kan jarang memuji kalau memang tidak layak dapat pujian. Nanti kalau Maya kelelep di lautan pujian, maka harus ada yang menggenggam erat tangannya agar selamat…*kok rada-rada ndak nyambung yah?Hehehe..tak apalah*

Tapi, ada satu judul yang melayang dan bermain-main di benak saya. Agar Bahtera Tidak Tenggelam (Hatta La Taghriq Assafinah). Alhamdulillah Ahaa..*sambil menjentikkan jari* saya menemukan yang pas. Cukup singkat, tapi pembahasan soal judul diatas bisa berbulan-bulan, bahkan bisa jadi blog ini akan sesak dengan kata-kata. Baca lebih lanjut

Malu

Bismillahirrahmanirrahim

Senin sore menjelang maghrib, Makassar diguyur hujan deras. Hari yang dingin dan basah itu adalah jadwal wisata hisbah bareng Ukhti Nurul. Wisata saya cepat berakhir karena cepat mulainya, sedangkan Nurul karena datangnya telat ditambah pembicaraannya seru maka hampir pukul 6 wisatanya baru kelar. Sambil nunggu,, saya nikmati sore itu diteras sebuah mushollah yang sepi. Tak berapa lama, Nurul keluar dari ruangan kecil yang ada di sisi mushollah yang masih menjadi bagian bangunan sederhana itu. Setelah meminta maaf karena sudah membuat saya menunggu lama akhirnya kami pun meninggalkan lokasi penjebakan (Eh…bukan!Lokasi wisata maksudnya) bersama salah seorang adik yang juga ikut wisata. Lumayan lah, bisa numpang mobil saudari sendiri, hemat ongkos..apalagi lokasi yang jauh menuntut kita naik angkot dan becak, tidak bisa berjalan kaki apalagi kalau waktunya mepet siang bolong pula bisa-bisa jadi roti bakar yang gesang..eh gosong.. Baca lebih lanjut

Awas Terlelap!

Bismillahirrahmanirrahim

Jika jiwa telah merasa aman, maka tubuh yang merasa penat  segera meminta pemenuhan hak dengan tidur. Begitu pula dengan amanah yang “dirasa” sudah terlaksana, memiliki perasaan aman lantas terlelap oleh keadaan yang ada. Selaiknya kita tak pernah merasa aman dengan peperangan dan perjuangan. Selaiknya para pasukan yang terus berjaga di perbatasan negeri yang tak ingin terlelap barang sejenak pun sebab musuh senantiasa mengintai. Itulah mata yang dijanjikan tak terjilat api neraka.

Awas terlelap..jika sang qiyadah terlelap, kira-kira bagaimana dengan pasukan yang ia pimpin?Akankah ada yang selamat?Akankah ada yang tetap semangat?sedang musuh senantiasa berjingkat mendekat..

Awas terlelap, jika telah memilih menjadi pejuang agamaNya..maka lelap hanya ada saat kenikmatan yang tertinggi telah teraih, saat tak ada lagi perih.. Baca lebih lanjut

Mengapa enggan bergabung dalam kafilah dakwah?

“Afwan kak, ana tidak bisa ikut bergabung!”.

Sebuah sms mampir di inbox, pagi yang cerah itu dihentakkan oleh sms seorang akhwat yang kami ajak ikut bergabung dalam kafilah dakwah. Kepala saya sedikit berdenyut membacanya. Empat bulan lalu, sebuah sms yang sama juga saya terima. Sejenak saya merenung, mencoba menggali memori yang tersimpan rapi dalam benak. Ada apa dengan jalan dakwah ini?. Saya harus mengakui jalan dakwah bukan jalan yang mudah, namun agak miris hati saya manakala kalimat tersebut terlontar dengan mudahnya. Tak hanya  itu, setahun lalu saya kembali terngiang dengan percakapan seorang akhwat senior. Ia bertutur tentang seorang akhwat yang juga mundur dari kafilah dakwah dengan alasan yang sampai sekarang saya tak mengerti. Ia enggan melanjutkan perjuangan dengan berkata, masih banyak jalan lain untuk meraih surga Allah. Tidak hanya dengan jalan dakwah katanya. Pertama kali mendengarkan pernyataan itu, saya yang masih minim ilmu-pun membenarkannya. Mencoba mencari justifikasi atas pernyataann tersebut. Yah, betul surga Allah bisa kita peroleh dengan berbagai macam cara. Sedikit pernyataan itu mempengaruhi prinsip saya dalam berdakwah dalam amal  jama’i. tapi, seiring waktu saya kemudian tidak membenarkannya. Sebab, saya menjadi orang yang pertama membenarkan komentar akhwat yang menceritakan kejadian tersebut. Akhwat senior tersebut mengatakan…

“Saya pun harus mengakui dek, pernyataan itu benar adanya dek. Tapi, secara pribadi saya mengatakan insya Allah dengan jalan dakwah inilah yang akan mengantarkan saya menuju surga Allah. Dengan jalan dakwah ini, saya merasa bisa tetap istiqomah. Meskipun sulit, namun hati, pikiran dan  jiwa kita terarah untuk memikirkan tegaknya kalimat Tauhid diatas muka bumi. Meskipun hal tersbut tidak sebanding dengan pengorbanan para shahabat yang mengorbankan harta dan jiwanya. Tapi, Insya Allah saya berazzam untuk itu”. Hmmm…..dua tahun lalu saya masih menganggapnya sebagai sebuah kalimat idealis dari seorang akhwat. Tapi, seiring perjalanan waktu menjadi sebuah hal yang harus dipegang hingga akhir hayat.

Baca lebih lanjut

Kapan Nyusul???(Episode Walimah)

Saya baru saja bangkit dari peraduan di malam yang menanjak sepertiga yang pertama, hari yang cukup padat mengantarkan saya terlelap lebih cepat dari biasanya, tapi dasar tak biasa hanya dua jam mata ini kembali melek. Dan ketika terjaga, saya dikagetkan oleh sms dari salah seorang akhwat.

“Kak, sudah tau ada lagi akhwat yang akan walimah?”. Kembali teringat percakapanku dengan Akhwat Pembina soal akhwat yang akan menggenapkan setengah dinnya itu. Serta merta ku jawab singkat. “Iya”. Tak berselang beberapa detak jam, handphone kembali berdering. *Hm…wah hebohh nih…..*bisik saya dalam hati.

”Kakak taunya akhwat yang itu kan?”.

“Iya dek, siapa lagi. Sudah lama tersiar kabar itu. Kenapa?”

“ wah, akhwat laris manis yah?:-)”*Kali ini lengkap dengan smile lagi..duh dinda bisa saya bayangkan wajah sumringahmu melihat rekan-rekanmu dah menikah.

“Kapan nyusul kak?”*Pertanyaan yang sudah dua bulan ini sering terlontar dari akhwat-akhwat yang lebih muda pada kami yang “sedikit”lebih tua*he he he….enggan sekalian bilang tua ding!

Baca lebih lanjut

Anak Bukan Penghalang Dakwah

Puff….badan saya masih terasa lelah setelah beraktivitas seharian, inginnya sih langsung tidur pulas diatas pulau kapuk, merebahkan tubuh dan melepas penat. Tapi, khawatir inspirasi ini kelewat buat dituliskan, maka saya bangkit lagi lantas menekan tombol power laptop, saya lantas melangkahkan kaki menuju dapur, mengambil sebuah gelas keramik putih hadiah ultah kota Makassar yang ke-400 lalu menuang segelas teh hangat dan mengoleskan margarine pada roti tawar dan duduk di depan laptop setelah sebelumnya menekan beberapa tuts keyboard mengetik password sembari menyangkutkan headset dikepala mendengarkan radio melalui hp untuk tau situasi kota saat ini. yah, beginilah gaya saya menggali inspirasi, mengais kata-kata untuk dijejer rapi membentuk sebuah tulisan sederhana tentang hidup. Meskipun sesekali harus tersentak karena nada sms masuk yang memekakkan gendang telinga. Baca lebih lanjut