IBU PALESTINA

Palestine

Anakku, mataku kini tiada menyisakan cahaya
Hingga lamur karena pekat
Namun masih ada bara manikmu
Menyisakan detak-detak perapian
Berangus sukma-sukma kayu

Anakku, punggungku berbentuk pelangi hanya disanggah pilar rapuh ujung tangan
Serabut-serabut putih tumbuh berlarian kepalaku
Hadir jua teguh sosokmu
Siap rambah padang seribu luka

Anakku, aku telah temaram usia
Tinggal selangkah mengetuk pintu tanah
Bukan menghantar denyut jantung itu yang kuingin
Mengutusmu menyambut rencah 100 peluru yahudi
Seperti menyusun batu bata surgaloka

Anakku mari jadi Ibrahim dan Ismail
Mahkotai raja kita dengan hibat pitih
Sudah sampai suratan
Mengikuti iringan jasad berbau kesturi
Menuju sisi Sang Pencipta

Liebe ENO Shafiiyyah (24.2.03)

(Suara untuk bumi Gaza dari tanah Anging Mammiri)

Agar Bahtera Tidak Tenggelam

Bismillahirrahmanirrahim

Mata saya terus menerus memantau sudah sampai dimana update peserta yang ikut give away Kemilau Cahaya Emas (Hehehe..takut tersaingi..ah ndaklah..soalnya yang lain pada hebat-hebat sih, saya sih lewat..). sejak GA-nya di launchingkan, sang pemilik blog sudah mengabari kalau akan melaksanakan lomba dan hadiahnya adalah buku karangannya ditambah buku lain yang sepadan. Setelah melihat tanggalnya, saya berencana untuk berada pada urutan terakhir dan di detik terakhir sebelum pintu perlombaan menuju seleksi ditutup, sayangnya saya harus segera mengikutinya khawatir saya tidak kebagian tempat soalnya ruangan buat peserta lomba penuh sesak ditambah lagi semuanya duduk di kursi sesuai dengan nomornya. Saya hanya akan membuat sensasi bila duduk di kursi panas yang terakhir. Bayangkan jika semua mata tertuju padamu dan meminta cap jempolmu hehehe… *ngarep.com*

Hhh…maka akhirnya dengan memohon ridho Allah saya menuliskan aksara saya setahap demi setahap ditengah aktivitas saya mempersiapkan materi pelatihan dan seminar di malam ahad awal februari ini.

Dari sekian banyak tulisan di blog Kemilau Cahaya Emas yang semakin menyilaukan namun tetap menjadi lentera itu, saya sempat dihinggapi kebingungan memilih tulisan yang mana yang harus saya jadikan ulasan. Maklum, semua tulisannya bagus sih..(Hehehe..May, ini bukan dalam rangka nyogok pakai pujian yah?!Soalnya, saya kan jarang memuji kalau memang tidak layak dapat pujian. Nanti kalau Maya kelelep di lautan pujian, maka harus ada yang menggenggam erat tangannya agar selamat…*kok rada-rada ndak nyambung yah?Hehehe..tak apalah*

Tapi, ada satu judul yang melayang dan bermain-main di benak saya. Agar Bahtera Tidak Tenggelam (Hatta La Taghriq Assafinah). Alhamdulillah Ahaa..*sambil menjentikkan jari* saya menemukan yang pas. Cukup singkat, tapi pembahasan soal judul diatas bisa berbulan-bulan, bahkan bisa jadi blog ini akan sesak dengan kata-kata. Baca lebih lanjut

Mengapa enggan bergabung dalam kafilah dakwah?

“Afwan kak, ana tidak bisa ikut bergabung!”.

Sebuah sms mampir di inbox, pagi yang cerah itu dihentakkan oleh sms seorang akhwat yang kami ajak ikut bergabung dalam kafilah dakwah. Kepala saya sedikit berdenyut membacanya. Empat bulan lalu, sebuah sms yang sama juga saya terima. Sejenak saya merenung, mencoba menggali memori yang tersimpan rapi dalam benak. Ada apa dengan jalan dakwah ini?. Saya harus mengakui jalan dakwah bukan jalan yang mudah, namun agak miris hati saya manakala kalimat tersebut terlontar dengan mudahnya. Tak hanya  itu, setahun lalu saya kembali terngiang dengan percakapan seorang akhwat senior. Ia bertutur tentang seorang akhwat yang juga mundur dari kafilah dakwah dengan alasan yang sampai sekarang saya tak mengerti. Ia enggan melanjutkan perjuangan dengan berkata, masih banyak jalan lain untuk meraih surga Allah. Tidak hanya dengan jalan dakwah katanya. Pertama kali mendengarkan pernyataan itu, saya yang masih minim ilmu-pun membenarkannya. Mencoba mencari justifikasi atas pernyataann tersebut. Yah, betul surga Allah bisa kita peroleh dengan berbagai macam cara. Sedikit pernyataan itu mempengaruhi prinsip saya dalam berdakwah dalam amal  jama’i. tapi, seiring waktu saya kemudian tidak membenarkannya. Sebab, saya menjadi orang yang pertama membenarkan komentar akhwat yang menceritakan kejadian tersebut. Akhwat senior tersebut mengatakan…

“Saya pun harus mengakui dek, pernyataan itu benar adanya dek. Tapi, secara pribadi saya mengatakan insya Allah dengan jalan dakwah inilah yang akan mengantarkan saya menuju surga Allah. Dengan jalan dakwah ini, saya merasa bisa tetap istiqomah. Meskipun sulit, namun hati, pikiran dan  jiwa kita terarah untuk memikirkan tegaknya kalimat Tauhid diatas muka bumi. Meskipun hal tersbut tidak sebanding dengan pengorbanan para shahabat yang mengorbankan harta dan jiwanya. Tapi, Insya Allah saya berazzam untuk itu”. Hmmm…..dua tahun lalu saya masih menganggapnya sebagai sebuah kalimat idealis dari seorang akhwat. Tapi, seiring perjalanan waktu menjadi sebuah hal yang harus dipegang hingga akhir hayat.

Baca lebih lanjut

Kapan Nyusul???(Episode Walimah)

Saya baru saja bangkit dari peraduan di malam yang menanjak sepertiga yang pertama, hari yang cukup padat mengantarkan saya terlelap lebih cepat dari biasanya, tapi dasar tak biasa hanya dua jam mata ini kembali melek. Dan ketika terjaga, saya dikagetkan oleh sms dari salah seorang akhwat.

“Kak, sudah tau ada lagi akhwat yang akan walimah?”. Kembali teringat percakapanku dengan Akhwat Pembina soal akhwat yang akan menggenapkan setengah dinnya itu. Serta merta ku jawab singkat. “Iya”. Tak berselang beberapa detak jam, handphone kembali berdering. *Hm…wah hebohh nih…..*bisik saya dalam hati.

”Kakak taunya akhwat yang itu kan?”.

“Iya dek, siapa lagi. Sudah lama tersiar kabar itu. Kenapa?”

“ wah, akhwat laris manis yah?:-)”*Kali ini lengkap dengan smile lagi..duh dinda bisa saya bayangkan wajah sumringahmu melihat rekan-rekanmu dah menikah.

“Kapan nyusul kak?”*Pertanyaan yang sudah dua bulan ini sering terlontar dari akhwat-akhwat yang lebih muda pada kami yang “sedikit”lebih tua*he he he….enggan sekalian bilang tua ding!

Baca lebih lanjut

Gerakan Salafi…

GERAKAN SALAFI MODERN DI INDONESIA
Sebuah Upaya Membedah Akar Pertumbuhan
dan Ide-ide Substansialnya
Oleh :Muhammad Ikhsan*
Pengantar

Indonesia nampaknya memang akan selalu menjadi lahan subur lahir dan tumbuhnya berbagai gerakan Islam dengan berbagai ragamnya; baik yang “hanya sekedar” perpanjangan tangan dari gerakan yang sebelumnya telah ada, ataupun yang dapat dikategorikan sebagai gerakan yang benar-benar baru. Dan sejarah pergerakan Islam Indonesia benar-benar telah menjadi saksi mata terhadap kenyataan itu selama beberapa kurun waktu lamanya.

Dan kini, di era modern ini,  mata sejarah semakin “dimanjakan” oleh kenyataan itu dengan tumbuhnya aneka gerakan Islam modern yang masing-masing menyimpan keunikannya tersendiri. Jagat pergerakan Islam Indonesia modern tidak hanya diramaikan oleh organisasi semacam Muhammadiyah dan NU, tapi disana ada pemain-pemain baru yang juga secara perlahan –namun pasti- mulai menanamkan pengaruhnya. Mulai dari yang mengandalkan perjuangan politis hingga yang lebih memilih jalur gerakan sosial-kemasyarakatan.

Salah satu gerakan Islam tersebut adalah yang menyebut diri mereka sebagai Salafi atau Salafiyah. Salah satu peristiwa fenomenal gerakan ini yang sempat “menghebohkan” adalah kelahiran Laskar Jihad yang dimotori oleh Ja’far Umar Thalib pada 6 April 2000 pasca meletusnya konflik bernuansa SARA di Ambon dan Poso.[1]
Tulisan singkat ini akan mencoba mengulas sejarah dan ide-ide penting gerakan ini, sekaligus memberikan beberapa catatan kritis yang diharapkan dapat bermanfaat tidak hanya bagi gerakan ini namun juga bagi semua gerakan Islam di Tanah Air. Baca lebih lanjut