Harapan

Tak pupus asa di dada

Akan gema rindu cinta

Yang membuai dan mengantarkan menuju surgaNya

Tak lekang menguap benak

Di ruang penuh tanda

Insya Allah..

Perjalanan mengarunginya harus terganti dengan sang Nakhoda baru, yang lebih baik, lebih kuat, lebih cinta, lebih lebih dan lebih…tak henti dada membuncah gemeretak meletakkan sebuah amanah yang entah menyelamatkan ataukah menjadi pemicu gugurnya amalan yang lain. Aku bukan lari, bukan tak peduli, tapi ku sedang terjaga menyaksikan pertumbuhan jiwa-jiwa yang meneruskan perjuangan. Aku bukan laksana pohon besar dengan rerumputan dibawahnya yang siap terpapar sang angin berdiri kokoh, namun aku pun seperti rumput yang siap dihantam puyuh bedanya akarku dibuatNya “sedikit” lebih kuat pikirku…

Hari ini ku kembali menjadi rumput yang siap mempercantik taman perjuangan yang lain. Ku harap ku siap menjalaninya, entah seperti apa tanah tempatku tumbuh, entah seperti apa puyuh yang kan kuhadapi. Namun, biarlah sang Kekasih memberikan jawabannya..

(Jumat Ba’da shubuh, dalam sahutan pagi yang menyemangati hati yang sendu)

 

Jalan itu telah kau pilih, maka susurilah….

Jalan terjal dan sulit

Memilih jalan dakwah sebagai jalan hidup bukanlah pillihan mudah, bukan pula jalan yang serupa dengan jalan berhias taman dipinggirannya apalagi serupa jalan tol yang bebas hambatan. Memilih jalan dakwah adalah pilihan besar yang pasti ujungnya adalah jannah-Nya. Seringkali terdengar sebuah keluhan hati dari saudari disekitar kita bahwa mereka lelah dengan jalan yang telah mereka pilih tersebut, yang jika keluhan itu tidak segera di “treatment” berakibat pada mundurnya mereka dari jalan dakwah ini yang secara otomatis menambah lagi para penonton bukan pemain. Jalan dakwah ketika telah dipilih sebagai jalan hidup maka, pada hakikatnya orang-orang yang telah mundur dari jalan tersebut adalah orang yang sedang tidak berada dalam hidupnya. Ibarat ikan yang keluar dari air lantas menggelepar dan mati. Allah seantiasa memilih hamba-hambaNya yang siap berjuang menegakkan kalimat tauhid. Seorang Ustadz pernah berkata bahwa Allah senantiasa menjadikan dari hamba-hambaNya itu orang-orang yang berjuang dijalanNya dengan harta dan jiwa mereka yang dengan perjuangan itu mereka telah menukarkan hidupnya dengan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Bukan itu saja tetapi mereka akan diberikan kemenangan yang besar. Suatu janji yang tak mungkin diingkari. Baca lebih lanjut

Meraih kemuliaan disisi Allah

Dalam Al Qur’an Allah Azza wa Jalla telah berfirman:

“Kamu (umat islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat)yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah”(QS. Ali Imran:104).

Kata kuntum dalam ayat ini spesifik disampaikan kepada sahabat, bahwa mereka dikatakan sebaik-baik umat akan tetapi juga diberikan keumuman bagi kaum muslimin  yang berdakwah sebab ayat ini mempersyaratkan bahwa sebaik-baik umat adalah mereka yang menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Kemuliaan yang Allah lekatkan kepada suatu kaum ataupun seseorang bukanlah harga yang murah, setiap kemuliaan tidaklah diperoleh dengan mudah tetapi kemuliaan diperoleh dengan masyaqqah sebab thariqah dakwah memiliki banyak ujian sebagaimana juga Allah telah berfirman dalam Al Qur’an:

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan “Kami telah beriman,”dan mereka tidak diuji?”(QS.Al Ankabut:2)

Tidak ada satu pun dalil yang menegaskan bahwa kemuliaan dapat diperoleh dengan predikat-predikat duniawi. Mari kita merenungi bahwa banyak ayat ataupun hadist yang memberikan gambaran bahwa mereka yang mulia antara lain orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya, belajar dan mengajarkan Al Qur’an, serta beriman dan bertakwa. Kemuliaan itu adalah apa yang dinilai mulia oleh Allah. Baca lebih lanjut