Seikat Kata Maaf

Mari bercermin sejenak pada sebuah telaga bening bernama hati. Semoga kedalamannya memberi satu peluang bahwa masih ada ruang untuk sekedar membuka harapan pada sebuah kata maaf. Semoga telaga itu tak keruh penuh dengan prasangka, curiga dan kemarahan..

Tulisan ini saya buat untuk mewakili hati yang bersalah. Bersalah karena telah menyembunyikan satu hal yang besar menurutnya. Ianya tak berbohong, hanya tak ingin memberikan celah bernama kemarahan untuk berkuasa. Meski ia tau bahwa efek domino yang terjadi akan lebih besar bahwa ia tak akan dipercaya lagi. Ia memohon diampunkan karena tak ingin membagi duka pada banyak pribadi bukan karena ia tak percaya tapi karena ia tak ingin menyusahkan pihak yang memiliki tempat sendiri di hatinya, saudaranya. Ia menyimpuhkan kedua belah tangannya atas sikap yang tiada berkenan dibanyak kesempatan atas puluhan tanya untuk berkata “ya” sebagai jawabannya. Tapi mari beri sedikit momen untuk jiwa melihat jauh lebih dalam. Baca lebih lanjut

Iklan

Pengen nulis, tapi…

Sederet kalimat telah hadir di kepala saya, hendak ditata rapi membentuk sebuah tulisan. Setiap hari selalu ada saja cerita yang bisa saya tulis, tapi…Saya pengen nulis kisah tersebut, tapi teringat kalo saya masih harus memeriksa soal ujian siswa yang sudah tertunda beberapa pekan, pengen nulis tapi teringat kalo saya harus mengerjakan tugas dari guru pamong, pengen nulis tapi teringat pakaian yang harus dilipat ba’da dicuci, pengen nulis tapi teringat kalo saya harus menghubungi beberapa orang akhwat soal persiapan kegiatan, pengen nulis tapi teringat harus muraja’ah materi biar besok mantap penyampaiannya, pengen nulis tapi ingat kalo seorang teman minta dibantu mengerjakan sebuah tugas. Pengen, pengen, pengen…tapi…nah lho, sekarang harus tambah lagi kalo saya harus menyelesaikan jahitan!Puff….Pengen nulis, tapi….