Dia Yang Telah Pergi


(Kullu nafsin dzaaiqatul mauut…)

Selamat Jalan…
Maafkanku yang tak sanggup temanimu dalam detik-detik perpisahan itu
Maafkanku tak melantunkan ayat-ayat cinta diruang dengarmu
Maafkanku tak mampu genggam jemarimu saat Malaikatul Maut menjemputmu
Bahagiaku saat mendengar segores senyum sempat kau lukiskan
Ingin mendampingimu dalam dekapan waktu
Namun jauhnya jarak memisahkan kita
Kini tanah telah menyatukanmu dalam diamnya Baca lebih lanjut

Seikat Kata Maaf

Mari bercermin sejenak pada sebuah telaga bening bernama hati. Semoga kedalamannya memberi satu peluang bahwa masih ada ruang untuk sekedar membuka harapan pada sebuah kata maaf. Semoga telaga itu tak keruh penuh dengan prasangka, curiga dan kemarahan..

Tulisan ini saya buat untuk mewakili hati yang bersalah. Bersalah karena telah menyembunyikan satu hal yang besar menurutnya. Ianya tak berbohong, hanya tak ingin memberikan celah bernama kemarahan untuk berkuasa. Meski ia tau bahwa efek domino yang terjadi akan lebih besar bahwa ia tak akan dipercaya lagi. Ia memohon diampunkan karena tak ingin membagi duka pada banyak pribadi bukan karena ia tak percaya tapi karena ia tak ingin menyusahkan pihak yang memiliki tempat sendiri di hatinya, saudaranya. Ia menyimpuhkan kedua belah tangannya atas sikap yang tiada berkenan dibanyak kesempatan atas puluhan tanya untuk berkata “ya” sebagai jawabannya. Tapi mari beri sedikit momen untuk jiwa melihat jauh lebih dalam. Baca lebih lanjut