Kembali dari Hiatus

small flower hand

Ughh.. saya sedang terkena sindrom. Sindrom kebuntuan inspirasi. Lihat saja, saya baru mendarat disini setelah sekian lama. Jari-jemari saya mendadak kaku, seperti lidah yang kelu untuk berkata. Hey, saya tidak benar-benar mengalaminya kok, buktinya saya masih bisa menuliskan ini kan?

Mengalami kebuntuan seperti ini sudah sering saya alami, adalah salah kalau saya harus mengkambinghitamkan rutinitas untuk melegitimasi ke-alpa-an saya menulis. Padahal saya baru saja mengikuti pelatihan jurnalistik. Oh Allah, ini kesalahan. Okey, saya harus keluar. Tapi, mulai dari mana? Somebody help me, please. Ah, itu terlalu mendramatisir. Keluar yah keluar saja. Ini, saya sudah keluar dari masalah dengan menulis lagi. Baca lebih lanjut

Iklan

Menulis itu (Gak) Gampang?!

“Hati-hati nulis!”

“Awas mengumbar kehidupan pribadi!”

“Jangan lebay deh dengan tulisan kamu!”

Sejumput pernyataan model begini sudah beberapa kali berseliweran. Warning buat kita-kita the bloggers mania yang hobby nulis dan posting tulisan di dunia maya. Buat yang sudah ahli berolah kata dengan kalimat sendiri, tidak lebay ketika nulis memang hal yang mudah. Atau untuk mereka yang sudah biasa buat artikel. But, buat kita-kita (maksud saya, khususnya saya gitu!!) menulis kehidupan pribadi dalam blog lebih mudah dibandingkan harus ngopas sana sini biar blog ramai tulisan juga bukan pilihan yang urgen. Toh orang bisa dapat itu dari situs utamanya?. Sampai disini alasan pertama bisa jadi argumentasi yang mapan. Atau saya tambah lagi satu biar genap argumentasinya, mengambil kehidupan pribadi lebih bisa termaknai dengan  menarik benang merah agar di kemudian hari kita bisa menyimpulkan”yah ini dia pelajaran hidup”.

Memang, diakui aktivitas menulis adalah aktivitas yang tidak semua orang bisa menggelutinya. Menulis adalah sarana menyampaikan opini, persepsi, argumentasi dan seikat makna lain yang serupa. Sarana yang terkadang bisa lebih menyentuh dibandingkan dengan berbicara langsung. Meskipun harus pula diakui kalau apa yang kita tulis juga kudu bin wajib dipertanggungjawabkan. Kenapa?karena jari jemari menggantikan posisi mulut dalam berbicara. So pasti itu berarti hukum lisan pun berlaku padanya. Sebagaimana pula lisan yang harus menyampaikan yang baik-baik saja, maka tulisan pun harus menyampaikan yang baik-baik saja.

Saya sedikit tergelitik ketika membaca sebuah uneg-uneg seseorang yang mengkritisi kehadiran blog-blog pribadi akhwat Baca lebih lanjut

Ingin Terus Berkarya…

Meski sederhana namun, postingan ini istimewa untuk mereka yang telah meluangkan waktunya sekedar menengok apa yang saya goreskan. Aksara yang terpahat di weblog ini tidak banyak, masih minim makna, minus manfaat, hanya mencoba mengalirkan letupan-letupan huruf yang siap berjejer dan membentuk kata.

Kepada mereka yang mengambil manfaat, semoga terus mengalir jariyah. Kepada yang menemukan inspirasi, teruslah berkarya tanpa batas. Kepada yang menemukan makna, jangan berhenti memahaminya!

Saya ingin menyampaikan rasa terima kasih atas kunjungannya. Kunjungan anda semua terlihat melalui traffic, komentar dan hasil pencarian mesin searching. Kunjungan itu membuat saya terus ingin menulis, memahat huruf demi huruf, menyusunnya meski terkadang terseok dengan aktivitas yang menggerus masa. Tulisan telah membangkitkan ide-ide yang lama terpendam usia dan ketidakdisiplinan. Terima kasih dan jangan berhenti memberi nasehat yang membangun! Baca lebih lanjut