Membangun Peradaban

Gambar

Ketika diberi masa untuk mencetak generasi maka, disitulah kita membangun peradaban.

“Hhh… sudahlah, kau tak membantu sama sekali. Aku menghubungimu untuk ditenangkan menghadapi ini. Tapi, sudahlah”. Desahnya lirih.

“aku bicara lebih realistis. Memang kamu butuh itu kan? Tapi ini sudah diluar kebiasaan”. Sergahku sengit.

“Sebentar kita lanjut. Aku sudah mau pulang dan tidak mungkin berbicara diatas motor. Okey?” lanjutku.

“Hmm… aku tidak janji bisa nelpon lagi. Assalamu alaaikum”

“kamu harus menelepon lagi, wa’alaykumussalam”.

Tut, tut, tut…

Telepon genggam ditanganku kumasukkan ke dalam saku tas. Senja kemerahan mengantarku pulang ke rumah. Itu percakapan dengan sahabatku via telepon sore itu. Sepanjang perjalanan aku berfikir, betapa kasihannya sahabatku menjadi guru yang tak digaji berbulan-bulan. Sekolah baru yang ditempatinya mengabdi belum mampu membiayai gaji guru-gurunya, karena masih harus berusaha memenuhi kelengkapan berkas agar layak dinyatakan sebagai sebuah sekolah berstatus negeri. Baca lebih lanjut

Pendidikan atau Eksploitasi??

Bismillahirrahmanirrahim

Tereksposenya kisah Siti anak berusia enam tahun yang berdagang bakso keliling kampungnya ke media massa elektronik mengundang banyak simpati masyarakat.

Pagi yang cerah di ahad ini sebelum saya melangkahkan kaki keluar rumah menuju tempat pertemuan rutin bulanan, saya menyempatkan diri melirik tivi barang sejenak guna mengetahui cerita hangat masyarakat Indonesia berikut seabrek masalah bangsa yang tak kunjung habis. Mulai dari demonstrasi yang tak mereda akibat kenaikan harga BBM, wabah tomcat yang melanda daerah jawa timur, kenaikan harga sembako sebagai efek isu kenaikan BBM hingga berujung pada talk show tentang Siti si Bocah penjual bakso.

Stasiun TV yang mengundang Siti beserta keluarga diwawancarai oleh anchor dengan beberapa pertanyaan yang menurut saya sedikit “memaksa” sang Ibu untuk mengakui bahwa ini eksploitasi masa emas anak untuk belajar dan bermain dengan bekerja mencari nafkah. Bahkan Siti pun ketika ditanya apakah Ia merasa kelelahan dengan aktivitas berdagang bakso yang ditekuninya pun menjawab kalau Ia merasa lelah. Maka makin kencanglah sang Anchor mengejar. Meskipun saya memandangnya sebagai sebuah talik ulur program acara. Stasiun TV tersebut juga mengundang Ayah Edy. Tau Ayah Edy kan??? Baca lebih lanjut

Untuk Anak Indonesia

Bayangkan jika setiap putra putri bangsa membangun negeri ini dengan potensinya masing-masing. Tidak ada yang merasa tinggi atau rendah dengan apa yang mereka dedikasikan untuk tanah air tercinta. Saya selalu membayangkan wajah siswa yang bersemangat, tanpa beban dan bergairah menghadapi setiap fase pembelajaran yang mereka geluti. Acungan tangan, mata yang berbinar, punggung yang senantiasa tegak kala informasi baru mengusik rasa penasaran mereka. Sebuah masa yang tak akan pernah tergantikan.

Anak-anak Indonesia adalah anak-anak yang cerdas luar biasa. Itu harapan yang tak boleh pupus dari seorang pendidik. Pandangan siswa saat belajar berawal dari pandangan guru terhadap mereka. Setiap anak adalah istimewa. Mereka terlahir dengan membawa blue print masing-masing dari Sang Pencipta. Baca lebih lanjut